Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, kepincut dengan potensi air nira atau air tuak manis yang melimpah di Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Dia mendorong air nira dari kebun warga diolah menjadi minuman segar premium bernilai jual tinggi.
Menurut Iqbal, pola pengolahan nira oleh warga setempat selama ini kurang efisien dan bernilai ekonomi. Kebanyakan air nira dijadikan gula merah. Padahal, proses pengolahannya butuh waktu lama dan hasil ekonominya minim.
"Selama ini untuk menghasilkan 1 kilogram gula merah itu butuh 10 liter air nira. Harus dimasak sekitar 8 jam pakai kayu bakar. Jadi ada waktu yang sangat lama dan pekerjaannya melelahkan," kata Iqbal saat meninjau Program Desa Berdaya Transformatif di Desa Mekarsari, Kamis (25/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara hitung-hitungan, Iqbal berujar, 10 liter air nira yang dimasak seharian itu hanya menghasilkan uang sekitar Rp 50 ribu dalam bentuk gula merah. Sebab itu, kata dia, Pemprov NTB tengah mengkaji pola hilirisasi air nira menjadi minuman segar siap konsumsi. Ada pun target pasarnya tidak main-main, akni hotel, restoran hingga destinasi wisata di NTB.
"Kalau kami buat industrinya, masyarakat bisa menyadap nira itu menjadi minuman premium yang segar untuk disuplai ke hotel dan restoran, bahkan bisa digunakan sebagai welcoming drink," jelas Iqbal.
Mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Turki ini menjelaskan teknologi yang dibutuhkan sebetulnya tidak rumit. Air nira cukup melewati proses sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet (UV) untuk menghentikan proses fermentasi, lalu dikemas dalam botol premium. Skema ini diyakini bisa mendongkrak pendapatan petani nira hingga delapan kali lipat.
"Kalau di gula merah, 10 liter itu cuma jadi Rp 50 ribu. Tetapi kalau diolah jadi minuman premium, 10 liter bisa menghasilkan sekitar 40 botol ukuran 250 ml. Kalau satu botol dijual Rp 10 ribu, nilainya bisa mencapai Rp 400 ribu," tegas Iqbal.
Selain mendongkrak isi dompet warga, produk ini diyakini bisa menjadi identitas baru pariwisata NTB. "Jadi selain memberi nilai tambah kepada masyarakat, ini juga mendukung sektor pariwisata," imbuh Iqbal.
Iqbal menerjunkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB untuk mematangkan rencana ini. Disperindag NTB akan melakukan pendampingan kepada warga, mulai dari rantai produksi hingga strategi pemasaran.
Di balik potensi nira yang menjanjikan, Iqbal tidak menampik adanya ganjalan besar di Desa Mekarsari. Desa yang berada di kawasan perbukitan ini masih terkendala infrastruktur jalan yang rusak, sempit, dan terjal.
Akses yang ekstrem ini membuat distribusi hasil bumi mulai dari nira, gula merah hingga durian menjadi tersendat. Alhasil, banyak petani terpaksa melego hasil panen mereka ke tengkulak dengan harga murah.
Iqbal menegaskan perbaikan infrastruktur jalan di Desa Mekarsari menjadi harga mati demi membuka isolasi ekonomi warga. Pemprov NTB pun berjanji akan memburu sumber pendanaan lain di luar anggaran Desa Berdaya Transformatif untuk membenahi jalan tersebut.
"Jalan ini akan kita carikan sumber (anggaran) yang lain. Yang jelas ini akan kita keroyok, nanti kita selesaikan," jelas Iqbal.
(iws/iws)