Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA dan SMK di Kota Kupang kembali menuai sorotan. Sejumlah orang tua calon siswa meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaudit operator sekolah setelah kuota di beberapa sekolah negeri dilaporkan penuh hanya dalam hitungan menit sejak pendaftaran dibuka.
Salah satu wali siswa di Kota Kupang, Anita Amtiran (52), menilai pengisian kuota yang hanya berlangsung dalam waktu 2-3 menit tidak rasional.
Ia mengaku kecewa karena anaknya gagal mendaftar di sekolah negeri pilihan meski telah menunggu sejak pagi dan menyiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah menunggu lama, semua dokumen sudah siap. Tapi saat sistem dibuka, kuotanya langsung penuh. Kami tidak tahu bagaimana prosesnya bisa secepat itu," kata Anita, Senin (22/6/2026).
Anita menegaskan KPK semestinya tidak hanya memantau pelaksanaan SPMB, tetapi juga mengawasi operator sekolah.
"Kalau bilang sekarang pengawasan langsung dari KPK, maka harus diawasi semua dengan itu operator sekolah. Jangan hanya 2-3 menit, portal yang dibuka tiba-tiba langsung dibilang penuh. Ini ada apa," tandasnya.
Ia juga mendesak pemerintah dan DPRD NTT melakukan audit terhadap mekanisme pendaftaran serta mempublikasikan data penerimaan secara terbuka.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat dan memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah akibat sistem yang dinilai tidak jelas.
"Kami tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi pemerintah perlu menjelaskan kepada masyarakat bagaimana kuota itu terisi. Kalau memang semuanya berjalan sesuai aturan, publik berhak mengetahui prosesnya secara terbuka, apalagi ada fungsi pengawas dari KPK," ujarnya.
"Pendidikan adalah hak setiap anak. Karena itu, proses penerimaan murid baru harus berlangsung jujur, adil, dan transparan," tambah Anita.
Disdik Bantah Ada Permainan
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) NTT Ambrosius Kodo menegaskan tidak ada permainan dalam proses SPMB Tahun Ajaran 2026-2027.
"SPMB dan PPDB online, saya kira sudah berlangsung 4-5 tahun. Dan bukan hal yang baru soal ini. Saya menegaskan tidak ada permainan dalam proses SPMB," tegas Ambrosius.
Ia menjelaskan kuota dapat cepat penuh karena ratusan siswa melakukan pendaftaran ke sekolah tujuan pada waktu yang bersamaan, sementara daya tampung yang tersedia terbatas.
"Mungkin pada saat bersama ratusan siswa mendaftarkan diri, kuota contohnya 40, ya penuh, kan begitu," ujarnya.
Untuk mengurai antrean, Disdikbud NTT membagi waktu pendaftaran menjadi sesi pagi dan sesi siang. Ambrosius menyebut hasil simulasi menunjukkan proses pendaftaran dapat dilakukan hanya dalam waktu 27 detik.
"Jadi tidak ada yang ditutupi di situ," katanya.
Terkait pengawasan, Ambrosius mengatakan KPK memastikan tidak ada praktik titip siswa dalam pelaksanaan SPMB. Menurutnya, setiap upaya manipulasi akan terekam dalam sistem digital.
"Pemantauan KPK tidak boleh ada titipan. Kalau ada upaya itu maka jejak digital akan terlihat apakah di tutup portalnya ataukah di tutup karena kuotanya sudah penuh. Kalau sudah penuh otomatis terkunci portal itu," tegasnya.
Ambrosius menambahkan sosialisasi mengenai SPMB online terus dilakukan setiap tahun agar masyarakat memahami mekanisme pendaftaran yang berlaku.
"Dengan kondisi seperti ini, semua diberikan kesempatan yang sama," tutupnya.
Untuk diketahui, SPMB wilayah NTT Tahun Ajaran 2026-2027 dibuka pada 17 Juni hingga 2 Juli 2026.