Pasangan suami istri (pasutri) Arif Rahman (28) dan Fitriani (20) kini harus kehilangan bayi laki-lakinya yang baru berusia dua hari. Anak kecil mereka meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Perwakilan keluarga, Ahyar, mengungkapkan bayi itu lahir di Puskesmas Monta, Kabupaten Bima, pada Jumat (19/6) sore. Lantaran kondisinya buruk sesaat setelah dilahirkan, bayi asal Desa Tolo Uwi, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, itu kemudian dirujuk ke RSUD Bima.
"Lahir di Puskesmas Monta tapi kondisinya kritis sehingga dirujuk ke RSUD Bima," ujar Ahyar, Sabtu (20/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setibanya di RSUD Bima menggunakan ambulans Puskesmas Monta, bayi tersebut sempat mendapat penanganan dari tim medis. Namun, menurut Ahyar, proses penanganan berikutnya terkendala karena pasien belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Terkendala Saat Tebus Obat
Menurut Ahyar, keluarga sempat meminta agar obat untuk bayi malang itu bisa ditebus secara mandiri tanpa menggunakan BPJS. Keluarga bahkan menawarkan jaminan berupa KTP sambil menunggu kiriman uang dari kampung.
Namun, Ahyar melanjutkan, petugas rumah sakit justru mempersulit penebusan obat tersebut. "Karena belum terdaftar BPJS, penebusan obat dipersulit oleh petugas Apotek RSUD Bima. Padahal, kondisi bayi saat itu sangat urgent dan membutuhkan obat," kata Ahyar.
Ahyar mengatakan keluarga diminta mengalihkan kepesertaan BPJS milik ibu bayi kepada pasien untuk menebus obat. Tak lama setelah itu, bayi yang dalam kondisi kritis tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Jenazah bayi tersebut kemudian dibawa ke Tolouwi menggunakan ambulans untuk dimakamkan. "Kejadian ini sangat kami sayangkan. Kami mengecam keras tindakan pihak RSUD Bima," ujar Ahyar.
Penjelasan RSUD Bima
Direktur RSUD Bima, Ihsan, buka suara mengenai meninggalnya bayi laki-laki dari pasangan Arif Rahman dan Fitriani tersebut. Ihsan mengeklaim penanganan pasien sudah sesuai prosedur operasional standar (SOP).
"Pasien yang meninggal sudah mendapatkan pelayanan medis secara berkesinambungan sejak menjalani perawatan di ruang ICU RSUD Bima," ujar Ihsan, Sabtu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penilaian tim medis, Ihsan berujar, bayi itu dibawa ke RSUD Bima dengan kondisi sangat kritis. Selain itu, bayi malang tersebut juga disertai gangguan kesehatan yang kompleks sehingga memerlukan penanganan intensif dan pemantauan medis yang ketat.
Ihsan menjelaskan pasien dengan kondisi kritis dan berbagai komplikasi memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. Karena itulah, dia melanjutkan, hasil akhir pelayanan sangat dipengaruhi oleh kondisi penyakit yang mendasarinya. Ihsan menegaskan upaya medis yang diperlukan telah dilakukan secara optimal.
"RSUD Bima senantiasa menjunjung tinggi keselamatan pasien, profesionalisme, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelayanan yang diberikan," kata Ihsan.
Ihsan pun menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya bayi tersebut. Ia berharap publik dapat menyikapi informasi secara bijaksana dan menjaga suasana kondusif dengan menghormati duka yang sedang dialami keluarga pasien.
"Kami juga menghormati perhatian, masukan, dan kepedulian masyarakat sebagai bagian dari upaya bersama untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan," tandas Ihsan.
(iws/iws)