Siang itu, Hajrul Azmi sibuk menyangrai biji kopi menggunakan mesin roasting di pojok rumahnya, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Azmi berdiri penuh konsentrasi, memperhatikan dengan saksama biji kopi yang berubah dari hijau pucat menjadi cokelat keemasan.
Sekelebat kemudian, aroma khas kopi memenuhi udara di ruangan sederhana itu. Sensasi hangat nan menenangkan. Menjelang akhir pekan, pemilik Loka Coffee itu selalu sibuk menyiapkan bubuk kopi dan memasukkannya ke dalam kemasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhir pekan biasanya ramai wisatawan yang liburan. Mereka akan membeli kopi khas Sembalun untuk oleh-oleh," tutur Azmi saat ditemui detikBali, Sabtu (13/6/2026).
Azmi lantas duduk bersila sambil meracik kopi untuk kami nikmati bersama. Ia menuturkan biji kopi tersebut dipetik dari kebun petani di Desa Sajang.
Bisnis kedai kopi itu dijalankan Azmi dengan menyulap teras rumahnya menjadi mini bar untuk berjualan. Selain menyeruput kafein, para pelanggan juga bisa melihat langsung cara menyajikan kopi yang nikmat.
Berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta yang mengenakan tarif bagi para pelanggan yang ingin belajar meracik kopi. Di Loka Coffe milik Azmi, para penikmat kopi bisa mendapatkan pengalaman tersebut secara gratis. Azmi pun bersedia membagikan ilmu meracik kopi.
"Kami jelaskan prosesnya kepada pelanggan, bisa belajar langsung. Kami terbuka diskusi dan berbagi pengetahuan tentang membuat kopi yang standar," kata Azmi.
Azmi menuturkan konsep tersebut sesuai dengan nama kedai sederhananya itu. Loka Coffee, dia berujar, berasal dari kata nyeloka yang berarti duduk sembari bercerita.
"Bercerita tentang kopi tentunya. Setiap pengunjung yang datang selalu kami ceritakan," imbuh pria berusia 35 tahun itu.
Azmi mengungkapkan dirinya ingin membuat sekolah kopi di Lombok sebagai wadah belajar bagi para petani dengan warga lainnya. Ide tersebut terbersit setelah mengikuti kursus di Indonesia Coffee Academy beberapa tahun lalu.
"Setelah dari sana, saya membuka kelas gratis bagi warga dan pemuda di sini. Kalau di luar kan dibayar, tetapi kalau untuk petani dan pemuda di sekitar sini saya gratiskan asalkan ada kemauan," ujar Azmi.
Selain membuka kelas gratis bagi warga dan pembeli, Azmi juga memberikan pendampingan kepada kelompok tani kopi yang telah ia bentuk sejak 10 tahun lalu. Para petani diberikan edukasi tentang perawatan hingga proses panen biji kopi.
"Saat ini sudah ada semacam training center yang kami buat bersama petani. Setiap pengunjung yang ingin melihat dan belajar langsung di kebun, itu sudah kami siapkan bersama petani," pungkasnya.
(iws/iws)










































