Kebakaran hutan dan lahan di Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil dipadamkan. Meski demikian, jalur pendakian masih ditutup dan rencananya baru akan dibuka kembali sekitar dua minggu ke depan.
Api yang melalap kawasan Bukit Sempana sejak Selasa (9/6/2026) berhasil dipadamkan setelah tim gabungan dari pengelola, KPH Rinjani Timur, Manggala Agni, serta TNI-Polri berjibaku mengendalikan kebakaran selama dua hari.
Pengelola Bukit Sempana, Sipawarman, mengatakan saat ini tidak ada lagi titik api di kawasan tersebut. Namun, kunjungan pendakian belum dapat dibuka karena kondisi lokasi pascakebakaran masih belum memungkinkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk sementara masih ditutup. Mungkin sekitar seminggu atau dua minggu lagi akan dibuka kembali, karena pasca kebakaran tentu kondisinya masih panas dan juga berdebu, itu bisa saja mengganggu kesehatan pengunjung," jelasnya saat ditemui detikBali, Kamis (11/6/2026) sore.
Sebelum dibuka kembali, pengelola berencana melakukan perbaikan di sejumlah titik, mulai dari jalur pendakian, area camping, hingga lokasi parkir pengunjung. Langkah tersebut dilakukan untuk menunjang keselamatan, keamanan, dan kenyamanan wisatawan.
"Rencananya memang akan kami perbaiki, baik itu rute yang dilalui oleh pengunjung, area camping, membersihkan sampah dan juga lokasi parkir akan kami tata kembali. Supaya pengunjung bisa aman dan nyaman," ujar Warman.
Ia juga optimistis rumput yang hangus terbakar akan kembali tumbuh menjelang Agustus. Menurutnya, jumlah pengunjung biasanya meningkat pada bulan tersebut, terutama saat peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
"InsyaAllah bisa hijau kembali, karena pengunjung akan ramai pada Bulan Agustus terutama pada Tanggal 17," ucapnya.
Kepala KPH Rinjani Timur Resort Sembalun, Supandi, menyebut luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut mencapai 282 hektare. Bahkan, kobaran api sempat menjalar hingga ke Bukit Jaran Kurus.
"Sudah sampai ke Bukit Jaran Kurus juga, namun kami pastikan sudah tidak ada titik api lagi. Kalau untuk data terbaru totalnya mencapai 282 hektar yang terbakar," pungkas Supandi.
Menurut Supandi, proses pemadaman terkendala medan yang curam serta minimnya peralatan. Kondisi tersebut membuat petugas kesulitan menjangkau lokasi kebakaran.
"Lokasinya sulit dijangkau oleh tim, karena curam dan cukup ekstrim. Selain itu, kami juga tadi hanya menggunakan ranting pohon, karena kalau membawa alat dari bawah juga cukup sulit," imbuh Supandi.
(dpw/dpw)










































