Sebanyak 11 ahli waris jemaah haji asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang wafat di Arab Saudi dipastikan mendapat santunan asuransi. Nilai santunan yang akan diterima masing-masing sebesar Rp 54.193.807 per jemaah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB, Lalu Muhamad Amin, menjelaskan nominal santunan tersebut setara dengan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayarkan jemaah pada musim haji 2026.
"Salah satunya adalah proses klaim asuransi yang akan diterima ahli waris. Nilainya setara dengan biaya perjalanan ibadah haji yang dibayarkan jemaah pada tahun ini sesuai embarkasi masing-masing," kata Amin dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain santunan berupa uang, Amin berujar, Kemenhaj NTB menjamin seluruh barang bawaan milik jemaah yang wafat akan dikembalikan utuh kepada keluarga. Barang-barang tersebut mulai dari koper, air zamzam hingga barang pribadi lain.
"Semua barang milik jemaah akan kami kembalikan kepada keluarga sesuai jadwal kedatangan kloter masing-masing," jelas Amin.
Amin menambahkan Kemenhaj NTB tengah bergerak cepat membantu ahli waris untuk menyelesaikan dokumen administrasi yang diperlukan. Dokumen krusial yang menjadi syarat mutlak adalah sertifikat kematian resmi dari otoritas Arab Saudi.
"Sertifikat kematian menjadi bukti yang kami gunakan untuk mengajukan proses klaim asuransi," tutur Amin.
Sebagai bentuk empati dan pendampingan, jajaran Kemenhaj NTB juga dijadwalkan melakukan kunjungan takziah ke rumah duka masing-masing jemaah yang wafat.
Di sisi lain, proses pemulangan jemaah haji Embarkasi Lombok ke Tanah Air masih terus berjalan. Tercatat sudah ada enam kelompok terbang (kloter) yang tiba di NTB hingga Senin (8/6/2026) dari total 15 kloter yang diberangkatkan.
Sementara 11 jemaah haji yang meninggal dunia di Tanah Suci dan seluruhnya dimakamkan di Arab Saudi. Mereka terdiri dari 3 jemaah Lombok Timur, 3 jemaah Lombok Tengah, 3 jemaah Kabupaten Bima, dan 2 jemaah Kabupaten Sumbawa.
Sebelumnya, Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram, Herman Nugraha mengungkapkan sebagian besar jemaah haji yang wafat atau meninggal dunia merupakan lansia. Kebanyakan, jemaah haji yang meninggal karena penyakit jantung, dan paru. Selain itu, karena kondisi fisik yang kelelahan juga menjadi faktor penyebab utama.
"Kebanyakan yang sudah lansia, ada yang sakit jantung, paru, yang memang sudah ada penyakit bawaan dari sejak keberangkatan. Karena kondisi kelelahan, capek, itu memengaruhi kondisi yang bersangkutan," katanya dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).
Selain itu, ada 12 jemaah haji NTB masih dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi. Bagi jemaah yang tidak bisa dipulangkan sesuai jadwal kloter, maka akan dipulangkan setelah kondisinya sehat pada kloter berikutnya.
(hsa/hsa)










































