Terdapat sejumlah peristiwa di Nusa Tenggara (Nusra) yang menarik perhatian pembaca detikBali pekan ini, 1-7 Juni 2026. Mulai dari erupsi Gunung Lewotobi, kebakaran di Sumba Timur tewaskan 4 orang, dan santri dibakar di Lombok Tengah. Berikut rangkumannya.
Gunung Lewotobi Meletus, Sejumlah Penerbangan Terdampak
Gunung Lewotobi Laki-laki, di Nusa Tenggara Timur meletus lagi, Jumat (05/6/2026) pukul 18:22 Wita. Foto: Dok. PVMBG |
Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali meletus sejak Jumat (5/6/2026). Petugas pos pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, Herman Yosep S Mboro, mengungkapkan letusan gunung menghasilkan kolom abu dengan tinggi 2,5 kilometer (km) di atas puncak atau 4 km lebih di atas permukaan laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teramati, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut. "Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29,6 mm dan durasi ± 2 menit 17 detik," kata Herman dalam keterangan yang diterima detikBali.
Herman mengimbau masyarakat maupun siapa saja di sekitar gunung berstatus level III (siaga) itu tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat di sekitar gunung juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. "Terutama daerah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote," imbuhnya.
Akibat erupsi tersebut, operasional penerbangan di Bandara Frans Seda Maumere kembali ditutup selama dua hari lantaran abu vulkanik telah menyebar ke arah Kabupaten Sikka, NTT.
"Hari ini 6 Juni 2026 operasi penerbangan di Bandara Frans Seda Maumere ditutup sementara sampai tanggal 7 Juni 2026 pukul 06.00 Wita," kata Kepala Bandara Frans Seda Maumere, Parthaian Pandjaitan, saat dikonfirmasi detikBali, Sabtu (6/6/2026).
Selain Bandara Frans Seda, dua penerbangan di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, hari ini. Pembatalan dilakukan oleh pihak maskapai karena adanya abu vulkanik.
Maskapai yang membatalkan penerbangan tersebut adalah Wings Air untuk rute Labuan Bajo-Ende dan Labuan Bajo-Bajawa.
"Batal karena abu vulkanik," kata Humas Bandara Internasional Komodo, Marwa, Sabtu (6/6/2026).
Meski demikian, penerbangan dengan rute lain di Bandara Internasional Komodo masih berjalan normal. Marwa menyebut abu vulkanik tidak terdeteksi di area bandara.
"Bandara Komodo hasil paper testnya negatif," kata Marwa.
Menurutnya, abu vulkanik kemungkinan terdeteksi di wilayah bandara tujuan penerbangan.
Kebakaran Hebat Tewaskan 4 Orang Sekeluarga di Sumba Timur
Kapolres Sumba Timur AKBP Gede Harimbawa saat meninjau lokasi kebakaran rumah yang menewaskan satu keluarga di Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur, NTT, Kamis (4/6/2026) Foto: Dok Polres Sumba Timur |
Tragedi memilukan terjadi Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Empat orang yang merupakan satu keluarga tewas dalam kebakaran rumah. Peristiwa itu terjadi di RT 02, Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang, Kamis (4/6/2026) dini hari.
Para korban itu adalah Kristanto Huruday (33) bersama istrinya Elisabeth Utu Lendi (30) dan anak kandung mereka, yakni Stella Ndah Ngana (9), serta salah satu keponakan, Aneta Widiantary Padji Tuka (2).
Kapolres Sumba Timur AKBP Gede Harimbawa menjelaskan kebakaran tersebut diketahui terjadi sekitar pukul 03.40 Wita oleh sejumlah warga. Namun, para korban kala itu sedang tertidur nyenyak. Warga yang melihat kejadian tersebut langsung menuju ke lokasi untuk memadamkan api.
Namun, kobaran api makin membesar lalu melahap sebagian besar bangunan yang terbuat dari kayu dan anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Mereka sempat berupaya memadamkan api menggunakan selang yang terhubung ke sumber air terdekat, tetapi tak membuahkan hasil.
"Karena saat itu, debit air sangat kecil dan material bangunan yang mudah terbakar membuat api dengan cepat menghanguskan seluruh bangunan," tutur Gede.
Gede mengungkap api berasal dari tungku di bawah lapak jualan milik keluarga tersebut.
"Dugaan sementara penyebab kebakaran diduga berasal dari sebuah tungku yang digunakan untuk masak, itu masih ada api," ungkap Gede kepada detikBali, Jumat (5/6/2026).
Gede menjelaskan pasangan suami istri yang tewas itu sehari-hari bekerja sebagai penjual sayur dan bahan bakar minyak (BBM) eceran di lapak tersebut. Polisi menduga minyak dalam botol kemasan yang dijual itu membuat api dengan cepat membakar bangunan nonpermanen tersebut.
Meski demikian, Gede menegaskan penyebab pasti kebakaran hebat itu masih perlu melalui uji laboratorium forensik (labfor). Ia memastikan peristiwa itu tidak melibatkan orang lain yang sengaja membakar bangunan nonpermanen tersebut.
"Sampai saat ini penyelidikannya belum terungkap. Jadi, yang jelas tidak ada orang lain yang sengaja bakar," jelas Gede.
3 Santri di Lombok Dibakar Teman-1 Meninggal Dunia
Tangkapan layar salah satu korban mengalami luka bakar saat dirawat di rumah sakit. Foto: (akun Facebook@Tiara Erna BenKinara Cahya) Foto: Facebook@Tiara Erna BenKinara Cahya |
Kasus dugaan pembakaran terhadap tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), terungkap setelah video korban beredar dan viral di media sosial (medsos).
Dalam video yang dilihat detikBali dari akun Facebook bernama @Tiara Erna BenKinara Cahya, terlihat seorang korban menangis kesakitan sambil memperlihatkan luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya yang telah dibalut perban di rumah sakit.
Terdengar juga suara pihak keluarga yang sedang menenangkan korban. Korban mengaku merasakan kesakitan di bagian badan dan kakinya. Unggahan tersebut telah ditonton oleh 65 ribu orang, dikomentari 312 orang dan dibagikan sebanyak 307 kali.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, peristiwa itu terjadi pada November 2025. Namun, baru terungkap setelah videonya beredar luas di media sosial.
"Kasus di pondok pesantren ini kejadiannya November 2025. Saya baru mengetahui setelah videonya beredar sekarang," kata Joko, Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, terdapat tiga santri yang menjadi korban. Mereka diduga disiram menggunakan bahan bakar sebelum dibakar oleh sesama santri. Akibat kejadian tersebut, dua korban mengalami luka bakar serius, sementara satu korban lainnya meninggal dunia.
"Ada tiga korban. Dua mengalami luka bakar dan satu meninggal dunia," ujarnya.
Joko mengaku langsung melakukan penelusuran setelah menerima informasi yang beredar di media sosial. Saat ini pihaknya masih mendalami kronologi lengkap peristiwa tersebut serta berkoordinasi dengan kepolisian.
"Tadi ramai di Facebook terkait adanya anak yang diduga dibakar oleh temannya sesama santri. Karena itu kami langsung melakukan penelusuran," imbuhnya.
Sementara, Rumidah, orang tua (ortu) Sahid Al Hudri (13), terpaksa menjual dua sapi untuk biaya pengobatan anaknya. Sahid adalah salah satu santri yang dibakar temannya di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy.
"Sampai-sampai jual sapi dua ekor untuk perawatan," kata Rumidah kepada awak media seusai diperiksa di Polres Lombok Tengah, Kamis (4/6/2026).
Rumidah terpaksa menjual dua sapi karena tanggung jawab dari Ponpes Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy dan terduga pelaku sangat minim. Padahal, biaya pengobatan Sahid cukup mahal, bahkan mencapai jutaan rupiah sekali berobat.
Seingat Rumidah, ia hanya pernah diberikan uang bantuan pengobatan untuk anaknya oleh Ponpes Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy beberapa kali saja. Nominal uang yang diberikan juga tidak seberapa dibanding dana yang dihabiskan.
"Sudah berapa kali itu, di RSUD Praya tiga kali, dan di rumah empat kali. Tidak banyak, Rp 400 ribu, Rp 250 ribu," terang Rumidah.
Sedangkan dari terduga pelaku, Rumidah hanya pernah diberikan uang satu kali sebesar Rp 5 juta. Selepas itu, hingga kini tak ada kejelasan maupun komunikasi lagi.
Sementara itu, penghabisan sekali perawatan dan belanja obat dalam sekali mencapai jutaan rupiah. Hal itu kemudian membuat Rumidah harus menjual sapinya.
"Memang pakai BPJS, tetapi tetap keluar uang buat beli obat. Sekali beli itu Rp 1 juta, Rp 800 ribu, Rp 1,2 juta. Belum lagi rawat jalan, saya bayar perawat untuk merawat di rumah dengan nominal Rp 8 juta," tutur Rumidah.
(nor/nor)













































