Inak Reme, Potret Kemiskinan di NTB

M Zahiruddin - detikBali
Kamis, 16 Apr 2026 07:30 WIB
Inak Reme (80) duduk di dipan bambu sederhana di dalam rumahnya di Lombok Barat, NTB, Rabu (15/4/2026). (Foto: M Zahiruddin/detikBali)
Lombok Barat -

Di usia 80 tahun, Reme atau yang akrab disapa Inak Reme menjalani hari tua dalam kesunyian, seorang diri di rumah berdinding triplek yang jauh dari kata layak.

Rumah berukuran sekitar 4x4 meter persegi itu berdiri di Dusun Mapak Reong, Desa Kuranji Dalam, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bangunan sederhana itu terbagi menjadi dua bagian. Kamar pertama berukuran sekitar 4x1 meter persegi yang langsung terhubung dengan pintu utama. Sementara kamar kedua menjadi tempat tidur Reme dengan luas sekitar 4x3 meter persegi.

Kondisinya memprihatinkan. Lantainya masih berupa tanah tanpa ventilasi, membuat ruangan terasa pengap dan gelap sepanjang hari.

Rumah itu juga tidak memiliki kamar mandi atau toilet. Untuk buang air, Reme harus berjalan ke selokan di depan rumahnya.

Di usia senja, Reme sudah tak lagi kuat beraktivitas. Hari-harinya dihabiskan dengan bangun tidur, menunaikan salat, lalu kembali berbaring di atas dipan bambu sederhana.

Ia hidup sebatang kara, tanpa keluarga. Bahkan, Reme diketahui tidak pernah menikah.

Di tengah keterbatasan itu, Reme tetap menjalani hidup tanpa mengeluh. Uluran tangan datang dari tetangga sekitar yang memberinya makan setiap hari.

Namun hingga kini, ia belum pernah tersentuh bantuan pemerintah dalam bentuk apa pun.

Ironinya, keberadaan Reme baru terdata saat suaranya dibutuhkan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

"Inak Reme ini adalah warga kami. Beliau ini teridentifikasi atau secara identitasnya kelihatan setelah ada pemilihan kemarin waktu pendataan penduduk lewat Panitia Pemungutan Suara (PPS)," tutur Kepala Dusun Mapak Reong, Jumiri, Rabu (15/4/2026).

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Barat, Syamsuriansyah mengaku telah turun langsung melihat kondisi Reme.

"Saya sangat mengapresiasi betul tetangga yang sudah merawat Inak Reme. Saya berikan bantuan seadanya ke tetangga yang merawat dia, karena Inak Reme ini hanya tanya uang Rp 5000," ujar politisi yang berdomisili di Labuapi tersebut.

Syamsuriansyah mengaku prihatin dengan kondisi Reme. Ia menyebut selama ini Reme tidak pernah masuk dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Ia memastikan akan memanggil sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk dimintai keterangan mengenai kondisi tersebut.



Simak Video "Video: Gerakan Bersama Melawan Kesepian, Satukan Lansia-Anak Muda"

(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork