Ketua Komisi III DPRD Lombok Barat, Fauzi, meminta Inspektorat untuk melakukan audit terhadap dua proyek Manajemen Sampah Zero (Masaro) milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat. Fauzi menyebut ada kejanggalan pada proyek Masaro senilai Rp 20 miliar tersebut.
"Sebenarnya ini barang sudah terang benderang," ujar Fauzi, Kamis (2/4/2026).
"Kami tunggu kinerja-kinerja pihak dari Inspektorat. Apa iya ini benar (Masaro) mesin baru, tapi keadaannya seperti ini?" imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fauzi memaparkan beberapa kejanggalan yang ditemukan dalam proyek Masaro. Di antaranya masalah penggunaan anggaran dari Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan jumlah sekitar Rp 21 miliar untuk membangun Masaro.
Menurut Fauzi, anggaran BTT semestinya diperuntukkan untuk menangani masalah kedaruratan atau kebencanaan. Ia pun mempertanyakan alasan kedaruratan yang digunakan untuk membangun Masaro.
"Saya sendiri baru hari ini tahu anggaran BTT 2025 yang digeser ke Masaro," imbuh politikus PKB itu.
Fauzi juga menemukan fakta bahwa mesin Masaro tersebut adalah rakitan dan suku cadangnya tidak berasal dari satu pabrikan. Ia lalu menyangsikan keabsahan e-katalog yang memakai sistem custom pada mesin pengolahan sampah itu.
"Apa ini program yang dipaksakan ataukah Lombok Barat ketipu dengan ekspose masalah Masaro ini?" ucapnya.
Fauzi menyayangkan besarnya anggaran yang dikeluarkan Pemkab Lombok Barat baik dalam proses pembangunan maupun operasional Masaro. Sebab, mesin tersebut justru tidak mampu bekerja secara maksimal, bahkan rusak. Belum lagi biaya listrik yang mencapai Rp 50 juta per bulan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, M Busyairi, mengaku tidak mengetahui persoalan anggaran BTT yang digunakan untuk membangun Masaro. Meski begitu, ia menyebut pengadaan Masaro dilakukan dengan pertimbangan kondisi darurat sampah di Lombok Barat.
"Kalau anggaran, saya tidak tahu. Yang paling pas menjawab adalah Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD)," ujar Busyairi.
Seperti diketahui, mesin pengolahan sampah Masaro di Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat, rusak lagi. Padahal, mesin itu baru diperbaiki sejak kerusakan terakhir pada Sabtu (7/3).
Busyairi sebelumnya mengatakan kerusakan tersebut disebabkan sampah yang masuk ke mesin Masaro tidak terpilah sempurna. Beberapa material seperti batu dan bata kerap ditemukan masuk mesin pengolahan sehingga membuat mesin rusak.
(iws/iws)










































