Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Perempuan bernama Marlince Mahemba (22), dilaporkan tewas setelah meminum obat rumput jenis Gramaxone setelah cekcok dengan ayahnya. Insiden itu terjadi di Kampung Muka Tamba, Desa Waimaringi, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya memang awalnya korban sempat bertengkar dengan ayahnya sehingga memutuskan minum obat rumput sampai meninggal," ujar Kasi Humas Polres Sumba Barat Daya AKP Bernardus Mbili Kandi kepada detikBali, Rabu (25/3/2026).
Bernardus menuturkan kasus itu bermula saat Marlince dan ayahnya Darius Rangga Mahemba (65) terlibat pertengkaran. Musababnya, Darius marah lantaran Marlince pergi ke Pantai Ratenggaro pada Minggu (22/3/2026) sekitar pukul 17.00 Wita, tapi baru pulang sekitar pukul 21.00 Wita.
Dalam pertengkaran itu, Marlince merasa sakit hati sehingga memutuskan membeli obat rumput di salah satu kios pada Senin (23/3/2026) sekitar pukul 07.00 Wita untuk mengakhiri hidupnya.
Setelah itu, Marlince langsung mengalami keracunan dan sempat mendapat pertolongan dari keluarga dengan cara memberikannya obat penawar tradisional, tetapi tidak efektif.
Selanjutnya, ia dilarikan ke Puskesmas Panenggo Ede pada Selasa (24/3/2026) sekitar Pukul 01.30 Wita untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, sekitar pukul 02.00 Wita, ia dinyatakan meninggal di Puskesmas Panenggo Ede.
"Sebelum meninggal korban sempat mengatakan kepada ayah dan keluarganya bahwa dia yang salah, bukan ayahnya yang kasih minum obat rumput," tutur Bernardus.
Menurut Bernardus, saat ini jenazahnya masih disemayamkan di rumah dukanya untuk menunggu upacara adat hingga pemakaman. Polres Sumba Barat Daya mengimbau kepada masyarakat agar tidak mengambil keputusan sesat untuk mengakhiri hidupnya apabila ada persoalan dalam keluarga.
"Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini. Kami berharap masyarakat lebih bijak ketika ada masalah dalam rumah maupun dengan orang lain," pungkas Bernardus.
(hsa/hsa)










































