Suster Laurentina, biarawati yang kerap mengadvokasi pemulangan jenazah pekerja migran Indonesia (PMI), mendesak pemerintah segera membangun rumah transit jenazah di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fasilitas itu dibutuhkan untuk menampung jenazah PMI sebelum dipulangkan ke daerah asalnya.
Menurut Laurentina, rumah transit sangat diperlukan bagi jenazah yang berasal dari Pulau Sumba, Flores, Sabu Raijua, Alor, Lembata, hingga Rote Ndao, sebelum diberangkatkan dari Kupang menuju wilayah masing-masing.
"Kupang itu sangat membutuhkan rumah transit untuk jenazah ya yang berasal dari luar Pulau Timor," ujar Laurentina saat ditemui di Bandara El Tari Kupang, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, selama ini tempat penampungan jenazah di Yayasan Sosial Penyelenggaraan Ilahi Kupang sangat terbatas. Kondisi itu sempat membuat tiga jenazah dari luar Pulau Timor nyaris tak bisa ditampung sebelum diberangkatkan menggunakan kapal.
Beruntung, saat itu ada keluarga yang bersedia membawa jenazah ke rumah mereka untuk sementara waktu.
RSUD Tak Lagi Bisa Tampung Jenazah
Laurentina menuturkan, sebelumnya jenazah yang transit di Kupang bisa dititipkan sementara di RSUD WZ Yohannes Kupang. Namun, kondisi tersebut kini tak lagi memungkinkan.
Hal itu terjadi setelah adanya efisiensi anggaran sehingga rumah sakit milik Pemprov NTT tersebut tidak lagi dapat menampung jenazah karena keterbatasan biaya. Biasanya setiap jenazah yang dititipkan dikenakan biaya Rp 140.000 per hari.
"Jadi mau nggak mau, kalau jenazah sudah di Kupang mau di kemanakan? Tetapi karena tanggung jawab kemanusiaan, maka kami upayakan apa adanya, meskipun tidak ada uang," jelas Laurentina.
Laurentina mengatakan persoalan tersebut penting disampaikan agar Pemprov NTT segera membangun rumah transit jenazah. Pasalnya, setiap tahun jumlah PMI asal NTT yang meninggal di luar negeri terus meningkat.
Ia menegaskan, meskipun sebagian PMI berangkat secara nonprosedural, mereka tetap manusia yang harus dihargai martabatnya.
Menurutnya, negara tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses pemulangan jenazah mereka berlangsung layak.
"Saya dari tim kargo Bandara El Tari Kupang sangat berharap Pemprov NTT untuk bisa membangun tempat transit karena kadang jadwal kapal tidak menentu, maka harus menunggu lagi. Ini salah satu kendala yang setiap tahun saya temui di lapangan," pungkas Laurentina.
(dpw/dpw)










































