Kronologi Bocah SD Bunuh Diri Versi Pemkab Ngada, Tak Singgung Buku-Pulpen

Ambrosius Ardin - detikBali
Minggu, 08 Feb 2026 18:44 WIB
Foto: Surat yang ditinggalkan siswa SD yang bunuh diri di Ngada, NTT. (Istimewa)
Ngada -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada membeberkan kronologi kematian siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban berinisial YBR (10) tersebut tewas gantung diri di pohon cengkih, Kamis (29/1/2026).

Kronologi itu terungkap dalam Laporan tertulis Pemkab Ngada ke Gubernur NTT Melkianus Emanuel Melkiades Laka Lena. Laporan itu ditandatangani Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Yohanes CW Ngebu atas nama Bupati Ngada. Yohanes membagikan salinan laporan tertulis itu kepada detikBali.

Dalam kronologi kematian YBR versi Pemkab Ngada itu, tak terdapat laporan tentang permintaan YBR dibelikan buku tulis dan pulpen yang tak bisa dipenuhi ibu kandungnya karena keterbatasan ekonomi. Pemkab Ngada hanya melaporkan beberapa kondisi psikososial korban, seperti kemiskinan ekstrem keluarga hingga kurang perhatian dan pendampingan orang tua.

Berikut kronologi kematian YBR menurut Pemkab Ngada:

Pada Rabu (28/2/2026), YBR pamit dari neneknya untuk menginap di rumah ibu kandungnya. Korban diasuh neneknya sejak usia satu tahun tujuh bulan.

Pada Kamis (29/2/2026) pagi, YBR mengeluh sakit kepala. Ibu korban meminta YBR tetap berangkat ke sekolah. Korban kemudian kembali ke pondok di kebun neneknya, tempat mereka tinggal.

"Korban terlihat oleh beberapa saksi tidak berangkat sekolah dan berada di sekitar pondok kebun neneknya," demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Sejumlah saksi yang hendak ke kebun sempat melihat dan berbicang denga YBR sebelum korban gantung diri.

Sekitar pukul 09.00 Wita, saksi pertama berinisial GK bersama istri dan seorang anaknya berusia lima tahun melihat YBR sedang duduk sendiri di pintu pondok menghadap ke arah jalan setapak. GK saat itu hendak ke kebunnya dan melintasi jalan setapak di samping kiri pondok. Jarak dari jalan setapak ke pondok sekitar dua meter.

Sembari berjalan, GK bertanya dalam bahasa daerah Bajawa, kenapa YBR tak pergi sekolah. Korban menjawab sedang sakit. Saat itu GK melihat ada kertas di depan korban.

GK melanjutkan perjalanannya ke kebun yang tidak jauh dari pondok korban. Sekitar pukul 11.30 Wita, GK mendengar teriakan dan tangisan dari arah pondok milik korban. GK langsung berlari menuju sumber suara dan didapatinya sudah banyak orang di halaman pondok tersebut. Dia kaget melihat YBR sudah tergantung di dahan pohon cengkih tepat di depan pondok.

Saksi kedua berinisial RP dilaporkan juga memberikan kesaksian yang hampir sama. Sekitar pukul 10.00 Wita, RP ke kebunnya dan melewati jalan setapak samping kanan pondok tempat tinggal korban. Jarak jalan setapak ke pondok sekitar satu meter.

Pada saat itu RP melihat korban sedang duduk sendiri di pintu pondok menghadap ke arah samping kiri jalan setapak bawah. YBR melihat RP berjalan di dekat pondok dan menyapanya dalam bahasa Bajawa. "Om Finus dua? (Om Finus ke kebun?)"

FN menjawab "Iya". Sambil berjalan, FN bertanya kenapa YBR tidak pergi sekolah. Sambil memegang dahinya dan sedikit tertunduk, YBR menjawab: "ja'o bha'i la'a sekolah, ja'o ulu heo" (saya tidak pergi sekolah, saya sakit kepala). FN kemudian melanjutkan perjalanannya ke ke kebun.



Simak Video "Menjelajahi Keindahan Bawah Laut Pulau Babi, Maumere, Nusa Tenggara Timur"


(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork