Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), meletus 277 kali pada Jumat (16/1/2026) pukul 06.00-00.00 Wita. Letusan itu menyebabkan lava mengalir 100 meter dari bibir kawah.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, mengatakan gunung setinggi 1.423 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu mengalami letusan dengan tinggi kolom 200 hingga 500 meter. Asap letusan berwarna putih, kelabu, hingga hitam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teramati 277 kali letusan. Terdengar gemuruh atau dentuman lemah hingga sedang, teramati aliran lava ke sektor barat dengan jarak luncur 100 meter dari bibir kawah," kata Stanislaus melalui siaran pers, Sabtu (17/1/2026).
Selain letusan, tercatat satu kali guguran dengan amplitudo 6,5 milimeter dan durasi 91 detik. Aktivitas vulkanik lainnya meliputi 518 kali embusan dan 22 kali tremor nonharmonik.
Stanislaus mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok, termasuk pengunjung, pendaki, dan wisatawan, untuk tidak memasuki serta tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Selain itu, masyarakat diminta menjauhi wilayah sektoral selatan-tenggara dan barat sejauh 2,5 kilometer dari pusat aktivitas.
"Mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran/longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Ile Lewotolok," imbuhnya.
Stanislaus juga mengajak masyarakat agar tidak panik jika mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah Gunung Ile Lewotolok. "Karena suara tersebut merupakan ciri aktivitas gunung api yang sedang dalam fase erupsi," tandasnya.
(nor/nor)










































