Amerika Serikat (AS) akan menyiarkan langsung eksekusi mati Nidal Hasan, mantan tentara yang dihukum karena membunuh 13 orang dalam penembakan massal di pangkalan militer Fort Hood. Eksekusi Hasan akan dilakukan oleh regu tembak dan disiarkan via livestreaming.
Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth, seperti dilansir AFP, Jumat (9/10/2026), mengatakan eksekusi mati terhadap Hasan akan dilaksanakan di hadapan "publik".
Ketika ditanya lebih lanjut soal apa yang dimaksud Hegseth bahwa eksekusi mati itu akan dilakukan di depan publik, Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menyebutkan bahwa akan ada tayangan livestreaming.
"Eksekusi mati itu akan disiarkan via livestreaming. Rincian lebih lanjut akan menyusul," kata seorang pejabat Pentagon, yang enggan disebut namanya, kepada AFP.
Hegseth, dalam pernyataan video yang diunggah ke akun resmi Pentagon di media sosial X pada Kamis (8/10), mengatakan Hasan "akan menghadapi regu tembak tentara, sebagaimana mestinya, dan kita akan memastikan orang-orang dapat menyaksikannya, bahwa hal itu akan dilakukan di hadapan publik".
"Orang-orang perlu memahami bahwa... ada konsekuensi serius untuk tindakan semacam ini," tegas Hegseth dalam pernyataan via itu, yang merupakan potongan wawancara dengan influencer sayap kanan Jack Posobiec saat keduanya berada di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.
Hasan merupakan mantan psikiater Angkatan Darat AS yang melakukan penembakan massal di Fort Hood pada 2009. Aksi tersebut menewaskan 13 orang, termasuk 12 tentara aktif, dan melukai 30 tentara lainnya.
Hasan dijatuhi hukuman mati oleh dewan juri pengadilan militer AS pada 2013 karena melakukan serangan penembakan massal yang terinspirasi Al-Qaeda.
Hasan mengalami lumpuh sebagian setelah ditembak oleh seorang polisi sipil yang dikerahkan ke lokasi usai penembakan terjadi.
Awal pekan ini, Pentagon mengumumkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyetujui rekomendasi Hegseth untuk mengerahkan regu tembak dalam eksekusi mati terhadap Hasan.
Dalam pernyataannya, Hegseth menekankan bahwa ini akan menjadi eksekusi mati oleh regu tembak pertama yang dilakukan militer AS sejak Perang Dunia II. Dia merujuk pada kasus Eddie Slovik yang dihukum mati karena desersi pada 1945.
"Saya menyukai mentalitas yang kita miliki pada Perang Dunia II, yaitu mentalitas untuk menang, yang memahami bahwa ketika musuh menyerang, Anda harus teguh mempertahankan posisi," ucap Menhan AS tersebut.
Eksekusi mati terhadap Hasan akan menjadi yang pertama dilakukan oleh militer AS sejak 1961 silam, sekaligus yang pertama melibatkan regu tembak sejak Perang Dunia II.
Dalam rekaman video terpisah, ketika ditanya apakah Hasan memiliki permintaan terakhir, Hegseth menjawab: "Tidak peduli. Kita akan melihat dia pada 3 Desember."
Tanggal 3 Desember diduga merujuk pada jadwal eksekusi mati Hasan. Sejauh ini, Pentagon belum mengumumkan secara resmi waktu pelaksanaan eksekusi mati tersebut.
Eksekusi mati oleh militer AS terakhir kali dilakukan pada 1961, ketika John Bennett dihukum gantung atas pemerkosaan dan percobaan pembunuhan.
Menurut kelompok HAM Amnesty International, setidaknya 17 eksekusi mati di depan publik tercatat telah dilakukan sepanjang tahun lalu. Enam eksekusi mati di depan publik di antaranya dilakukan di Afghanistan, dan 11 eksekusi mati serupa lainnya dilaksanakan di Iran.
Simak Video "Video: Iran Pastikan Tak Ada Demonstran yang Dieksekusi Hukuman Mati"
(dpw/dpw)