Ancam-Peras Tetangga Sebar Video Masturbasi, Pria di Buleleng Dibui

Made Wijaya Kusuma - detikBali
Selasa, 30 Agu 2022 11:54 WIB
Tersangka IKAS (20) baju tahanan saat digiring di Mapolres Buleleng, Selasa (30/8/2022)
Tersangka IKAS (memakai baju tahanan warna oranye) saat digiring polisi di Mapolres Buleleng, Selasa (30/8/2022) (Foto: Made Wijaya Kusuma)
Buleleng -

Seorang pria berinisial IKAS (20) asal Banjar Dinas Sanih, Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali harus berurusan dengan polisi.

Ia ditangkap anggota Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Buleleng dan dibui karena melakukan aksi pemerasan dan pengancaman terhadap tetangganya sendiri berinisial IMS (55).

Kanit II Reskrim Polres Buleleng Ipda Ketut Darbawa, S.H, Selasa (30/8/2022) menjelaskan, penangkapan terhadap IKAS berawal dari adanya laporan Korban IMS.


Sesuai laporan, korban mengaku diperas tersangka sebesar Rp. 1.500.000 sekitar bulan Juni 2022 lalu.

Modusnya, jika korban tidak memberikan sejumlah uang yang diminta tersangka, maka tersangka IKAS akan menyebarkan rekaman video adegan masturbasi yang dilakukan korban saat video call seks (VCS) ke media sosial (medsos) dan keluarga.

Singkat cerita, imbuh Ipda Ketut Darbawa, karena khawatir dan tidak terima dengan ancaman tersebut, korban lantas melaporkan kejadian itu ke polisi.
Berdasarkan laporan tersebut, polisi kemudian melakukan penyelidikan dan investigasi.

Dari penyelidikan, diketahuilah identitas pelaku merupakan seorang laki-laki yang berinisial IKAS (20) asal Banjar Dinas Sanih, Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, yang masih satu desa dengan korban.

"Setelah identitas pelaku diketahui, penyidik langsung mengamankan pelaku pada tanggal 3 Juli 2022 dirumahnya dan saat itu juga disita dari tangan pelaku berupa handphone, kartu SIM, dan laptop yang digunakan sebagai alat dalam melakukan dugaan perbuatan tersebut," terang Ipda Ketut Darbawa saat jumpa pers di Mapolres Buleleng.

Kini atas perbuatannya, Tersangka IKAS dijerat Pasal 45 ayat (4) Undang Undang (UU) No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Untuk ancaman pidananya paling lama 6 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 1 miliar,"terang Ipda Ketut Darbawa.



Simak Video "Hampir Setahun, Akhirnya DPR Bakal Tindaklanjuti Surpres Revisi UU ITE"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)