Gambuh, Drama Tari Tertua di Bali

I Gusti Ayu Natasha - detikBali
Sabtu, 24 Okt 2026 11:51 WIB
Kesenian Gambuh Bali. (Foto: Yayasan Bali Purnati/ Istimewa)
Denpasar -

Gambuh disebut-sebut sebagai drama tari klasik tertua di Bali. Tarian ini memadukan tari, drama, sastra, tembang, dengan iringan gamelan atau tabuh pegambuhan.

Kesenian Gambuh masih dipertahankan sejumlah desa adat di Bali. Namun demikian, regenerasi penari maupun pemain gamelan Gambuh menjadi tantangan tersendiri.

Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Gambuh diperkirakan telah ada sejak 1007 Masehi, pada masa Sri Udayana. Sementara itu, versi yang membuat banyak perkembangan pada kesenian Gambuh diperkirakan terjadi pada abad ke-14 hingga ke-16.

Gambuh kerap dikenal sebagai "ibu" dari drama tari Bali. Kesenian ini kaya unsur gerak struktur lakon maupun estetika yang memberi pengaruh besar terhadap kesenian Bali lainnya.

Cerita dan Tokoh dalam Gambuh

Lakon Gambuh umumnya bersumber dari cerita Panji atau Malat, berisi tentang kehidupan, roman, dan peperangan kerajaan-kerajaan Jawa Timur. Kisah utamanya meliputi petualangan Panji dalam mencari kekasih sejatinya, Putri Rangkesari. Lengkap dengan unsur penyamaran, konflik, hingga pertemuan kembali.

Dalam pementasan Gambuh, tokoh bangsawan seperti raja, pangeran, dan putri berdialog dengan bahasa Kawi. Sedangkan, tokoh abdi seperti Condong, Taurus, serta Panasar menggunakan bahasa Bali.

Umumnya, pertunjukan Gambuh diiringi gamelan pegambuhan dengan laras pelog Saih Pitu. Ciri khas iringan ini terletak pada instrumen suling gambuh berukuran besar.

Suling gambuh dapat disebut sebagai instrumen utama yang menghasilkan nada khas. Gamelan pegambuhan juga dilengkapi instrumen pelengkap lainnya seperti rebab, kendang, gong, kajar, klenang, dan perangkat perkusi lainnya.

Melestarikan Gambuh

Sejumlah desa di Bali hingga saat ini masih melestarikan Gambuh. Misalkan Desa Batuan di Gianyar, Desa Pedungan di Denpasar, Anturan dan Tumbak Bayuh di Buleleng, dan Budakeling di Karangasem.

Di Batuan, Gambuh biasanya dipentaskan secara bergantian oleh beberapa sanggar saat odalan atau upacara di pura. Beberapa kelompok Gambuh yang aktif, antara lain Sanggar Kakul Mas, Tri Pusaka Sakti, Sunari Wakya, Satria Lelana, Sekeha Gambuh Mayasar, maupun Sanggar Gambuh Semeton.

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, desa adat, akademisi, lembaga pendidikan, hingga komunitas seni untuk melestarikan kesenian Gambuh. Dengan begitu, Gambuh diharapkan tidak hanya tampil untuk festival, melainkan tetap dapat hidup di tengah-tengah aktivitas berkesenian warga Bali.



Simak Video "Video Motif Penusukan di Denpasar: Pelaku Tersinggung Ditatap Korban"

(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork