detikBali

Mengenal Tari Legong Bali: Asal-usul, Ciri Khas, Makna, dan Daya Tariknya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Mengenal Tari Legong Bali: Asal-usul, Ciri Khas, Makna, dan Daya Tariknya


I Gusti Ayu Natasha - detikBali

tari legong
Foto: Tari Legong. (Dok. Mola TV)
Denpasar -

Tari Legong Bali dikenal dengan gerakan yang elok dan ekspresi mata yang tajam. Sebagaimana tarian Bali pada umumnya, Tari Legong juga diiringi dengan gamelan. Namun, tarian tradisional ini tak cuma sekadar tontonan biasa, tetapi menyimpan pengetahuan sejarah, kisah, musik, busana hingga nilai budaya masyarakat Bali.

Nama Legong terdiri dari kata 'leg' yang memiliki arti lentur atau luwes dan 'gong' yang merujuk pada gamelan. Maknanya menggambarkan hubungan erat antara gerak penari serta irama musik pengiring yang mengalun.

Asal-usul Tari Legong

Tari Legong mulai berkembang di lingkungan keraton Bali sekitar abad ke-19. Salah satu kisah yang dikenal luas adalah cerita dari Kerajaan Sukawati.

Raja Sukawati, I Dewa Agung Made Karna, yang memerintah pada 1775-1825 mendapat penglihatan tentang sosok-sosok bidadari yang menari diiringi gamelan saat bertapa di Pura Jogan Agung. Kisah tersebut menjadi salah satu asal-usul Tari Legong.

Tari Legong awalnya dipentaskan di kawasan puri dan menjadi salah satu hiburan di kalangan kerajaan. Seiring berjalannya waktu, tarian ini diwariskan kepada masyarakat dan berkembang di sejumlah desa, seperti Sukawati, Peliatan, Saba, dan Bedulu. Perjalanan dari lingkungan Keraton ke desa menghasilkan beragam gaya maupun variasi cerita lainnya.

Karakteristik Gerak serta Iringan

Salah satu ciri yang ditonjolkan Tari Legong adalah gerakan yang terukur dan saling terkait dengan iringan gamelan. Penari mengolah gerak tangan, kepala, tubuh, maupun mata untuk membangun karakter serta menyampaikan alur cerita.

Legong Lasem misalnya. Terdapat dua penari berperan sebagai tokoh Legong, sementara seorang penari sebagai tokoh Condong yang menjadi pembuka pertunjukan. Kipas menjadi salah satu properti khas penari Legong, sedangkan tari Condong umumnya tidak menggunakan kipas.

Busana maupun hiasan kepala yang berwarna cerah turut memperkuat penampilan penari Legong di panggung. Penampilan penari Legomg biasanya diiringi gamelan Semar Pagulingan atau Pelegongan meski dalam beberapa pementasan kini digunakan gamelan Gong Kebyar.

Makna dan Cerita

Tari Legong menyampaikan kisah melalui perpaduan ekspresi, koreografi, musik hingga peran para penari. Salah satu lakon yang populer adalah Legong Lasem, mengangkat kisah dalam cerita Panji mengenai Prabu Lasem dan Diah Rangkesari.

Bagi pengamat, memahami cerita maupun unsur pertunjukan dapat menjadi pintu utama dalam mengenal pengetahuan budaya Bali, mulai dari tradisi seni keraton, ragam iringan gamelan, penggunaan busana, serta cara sebuah kisah diceritakan lewat tarian.

Makna setiap pementasan dapat berbeda, tergantung pada lakon dan tradisi setempat. Karena itu, Legong lebih tepat dipahami sebagai kelompok tarian dengan berbagai versi, bukan sebuah cerita tunggal.

Daya Tarik Wisata Budaya

Tari Legong dahulu hanya dipentaskan di pura dan puri pada waktu tertentu. Kini, tarian tersebut juga hadir dalam pertunjukan seni dan wisata sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Legong Lasem menjadi varian yang kerap dibawakan dalam pementasan wisata.

Daya tarik Tari Legong bagi wisatawan terletak pada gerak tari, suara gamelan, busana, dan cerita yang dapat dinikmati dalam satu pertunjukan. Namun, nilai Tari Legong tidak hanya berhenti sebagai sebuah hiburan. Pementasannya juga membantu memperkenalkan seni tradisional hingga pengetahuan budaya Bali kepada pengunjung.



(dpw/dpw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads