Prosesi palebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda melalui upacara Bumi Suda atau kremasi digelar di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, Ujung Mantri, Karangasem, Kamis (30/7/2026). Upacara tersebut dilaksanakan untuk memenuhi wasiat almarhum semasa hidup.
Pelaksanaan kremasi itu sekaligus menjadi sejarah bagi Krematorium Tyaga Margananda. Sebab, prosesi tersebut merupakan pelebon sulinggih pertama yang digelar di krematorium itu sejak mulai beroperasi pada 27 September 2025.
Rangkaian upacara sebenarnya telah dimulai sejak 26 Juli 2026 di Griya Widya Giri Kusuma, Sidembunut, Desa Cempaga, Bangli. Sejumlah prosesi sakral dilaksanakan, mulai dari matur piuning, nancep taring, nunas tirta Tri Kahyangan, hingga mesucian agung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puncak upacara ditandai dengan pengantaran layon dari Bangli menuju Karangasem. Setibanya di krematorium, prosesi dilanjutkan dengan tahapan Bumi Suda.
Pengelola krematorium, I Wayan Pasek Yasa, mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan kepada pihaknya. Menurut dia, meski belum genap setahun beroperasi, fasilitas tersebut telah dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan pelebon seorang sulinggih.
"Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Baru beberapa hari sebelumnya kami mendapat kabar bahwa beliau akan di pelebon di sini," kata Pasek Yasa, Kamis (30/7/2026).
Pasek Yasa menuturkan minat masyarakat terhadap krematorium terus meningkat. Warga dari berbagai kecamatan di Karangasem mulai memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai alternatif pelaksanaan upacara yadnya.
"Banten yang disiapkan tetap lengkap seperti ngaben pada umumnya, sehingga tidak mengurangi makna upacara tersebut," ucap Pasek Yasa.
Sementara itu, Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda (Nabe Napak) menegaskan kremasi tersebut merupakan wasiat langsung dari almarhum semasa hidup. Meski keluarga telah menyiapkan tegal suci atau palebon khusus sulinggih, permintaan itu tetap dihormati.
"Beliau memang menghendaki kremasi. Seluruh prosesi tetap dilaksanakan sesuai tata agama, mulai dari Purwasaya hingga penyekahan," ujar Ida Sattwika Nanda.
Ia menambahkan keberadaan krematorium bukan untuk mengubah tradisi, melainkan menjadi alternatif yang memudahkan masyarakat dalam melaksanakan yadnya.
"Ini bukan merusak adat, tetapi memberikan pilihan yang lebih sederhana dan efisien tanpa meninggalkan nilai kesakralan," ucapnya.
Putra almarhum, I Komang Pujawan, mengatakan keluarga melaksanakan kremasi sebagai bentuk penghormatan terhadap pesan terakhir sang ayah. Selain itu, kondisi desa yang sedang melaksanakan upacara adat juga menjadi pertimbangan.
"Ini amanat beliau semasa hidup. Kami hanya melaksanakan. Kremasi menjadi pilihan yang memungkinkan tanpa mengurangi makna yadnya," kata Pujawan.
Semasa hidup, Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dikenal sebagai pendidik. Ia pernah mengabdi sebagai kepala sekolah dan dosen di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa sebelum akhirnya menjadi sulinggih. Prosesi pelebon tersebut menjadi penghormatan terakhir sekaligus wujud pelaksanaan wasiat almarhum dengan tetap mengedepankan kesakralan upacara.