Indonesia kerap didengungkan sebagai negara agraris karena memiliki lahan pertanian yang luas. Warga di berbagai daerah pun memiliki tradisi yang lekat dengan budaya agraris.
Tak hanya saat musim tanam, masyarakat agraris juga memiliki tradisi setiap memanen hasil pertanian mereka. Tak terkecuali masyarakat Lio Ende di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menggelar ritual Mbama sebagai wujud syukur atas hasil panen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mbama merupakan sebuah tradisi yang masih dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat Lio Ende. Bulan Juni adalah waktu penyelenggaraan ritual Mbama dan hasil panen pada waktu tersebut biasanya melimpah. Lantunan syair pujian, doa, serta harapan dibacakan ketika tradisi Mbama digelar.
Prosesi Ritual Mbama
Dikutip dari artikel berjudul 'Ritual Adat di Desa Wolosoko Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende' yang ditulis oleh Alan Priatma, Anita, dan Karolus Charlaes (2023), ada tiga tahapan dalam pelaksanaan ritual Mbama. Mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga penutup.
Pada tahap persiapan, mosalaki pu'u atau kepala suku mengundang anggota suku untuk bertemu. Mereka berembuk menentukan tanggal pelaksanaan Mbama.
Selain itu, pertemuan tersebut juga membahas mengenai berbagai sarana pelaksanaan Mbama. Beberapa sarana ritual tersebut, antara lain beras, ayam, babi, arak, kelapa, dan kayu api. Logistik lainnya yang menjadi sarana pendukung berupa podo, hawa, henna, kidhe, kidha, dan lain sebagainya.
Memasuki tahapan pelaksanaan, prosesi dimulai dengan upacara Ka Are Sewa Jala. Prosesi ini bertujuan untuk memohon restu leluhur agar selama musim panen dan prosesi Mbama berlangsung.
Rangkaian pelaksanaan kemudian dilanjutkan dengan memasak nasi untuk Mbama. Terdapat pula pembacaan syair, tarian, hingga puncak acara berupa pemberian sesaji yang ditujukan kepada leluhur dan nenek moyang di rumah maupun di bukit.
Selanjutnya, tahap penutup yang disebut sebagai Gawi Sia. Acara pelengkap ini biasanya diikuti oleh warga yang berasal dari kampung tetangga. Ketika tamu sudah pulang dan acara telah selesai, maka penyelenggara membersihkan tempat seperti semula.
Fungsi dan Makna Ritual Mbama
Bagi masyarakat Ende, ritual Mbama bertujuan untuk mengharap kebaikan atas panen yang didapatkan. Untuk diketahui, berdoa kepada leluhur atau arwah nenek moyang adalah ciri kebudayaan masyarakat Austronesia. Meski agama Kristen dan Katolik telah masuk ke wilayah NTT, tetapi warisan pemujaan terhadap nenek moyang tidak bisa dipisahkan.
Fungsi lainnya adalah sebagai perekat sosial. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia merupakan jenis masyarakat komunal. Kumpul keluarga dan kerabat menjadi hal tidak terpisahkan, termasuk saat hari raya maupun musim panen.
Nah, demikianlah ulasan mengenai ritual Mbama di Ende, Flores. Semoga bermanfaat!
(iws/iws)