Jauh sebelum teknologi dan gawai menjadi bagian dari gaya hidup, masyarakat di berbagai daerah menggandrungi permainan tradisional. Salah satunya adalah mejaran-jaranan, permainan rakyat asal Kabupaten Buleleng, Bali.
Sekilas, nama permainan tradisional ini mirip dengan kesenian jaranan dari Jawa Timur. Namun, jaran-jaranan dari Bali memiliki filosofi serta teknik bermain yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak asal-usul hingga cara memainkan permainan rakyat mejaran-jaranan dari Buleleng, Bali, seperti dirangkum detikBali dari berbagai sumber berikut ini.
Asal-usul Mejaran-jaranan
Mejaran-jaranan merupakan salah satu permainan tradisional yang berkembang di Desa Banyuning, Buleleng. Jaran atau kuda dimaknai sebagai simbol indera dalam diri manusia. Melalui permainan ini, anak-anak diajarkan untuk melatih pengendalian diri sejak dini.
Permainan rakyat ini memiliki sejarah panjang yang berakar pada tradisi serta kepercayaan masyarakat setempat. Konon, permainan ini muncul pada masa Kerajaan Bedahulu, ketika seekor kuda kesayangan raja dilaporkan hilang.
Mendengar hal tersebut, sang raja segera memerintahkan rakyatnya untuk mencari kuda itu, entah dalam keadaan hidup maupun mati. Ia juga menjanjikan hadiah istimewa bagi orang yang berhasil menemukannya.
Masyarakat pun mulai menyisir ke berbagai wilayah, dari timur hingga barat. Singkat cerita, salah satu kelompok berhasil menemukan kuda kesayangan raja tersebut.
Kabar penemuan kuda itu disambut sorak-sorai penuh kegembiraan. Sejak itulah, permainan mejaran-jaranan diciptakan dan diwariskan secara turun temurun untuk mengenang peristiwa tersebut.
Cara Bermain Mejaran-jaranan
Permainan mejaran-jaranan kerap ditampilkan dalam berbagai acara besar, seperti Pesta Kesenian Bali (PKB) hingga Buleleng Festival yang digelar bertepatan dengan akhir piodalan di Pura Gede Pemayun. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda sekaligus melestarikan permainan tradisional di tengah perkembangan zaman.
Sebelum permainan dimulai, para pemain terlebih dulu mengelilingi pura sambil menyanyikan lagu tradisional berbahasa Bali. Kedua tim biasanya juga telah menyepakati hukuman yang harus dijalani oleh kelompok yang kalah.
Mejaran-jaranan dimainkan oleh dua kelompok yang masing-masingnya terdiri dari 5 hingga 10 orang. Kedua kelompok kemudian membentuk formasi saling berhadapan. Salah satu pemain kemudian diangkat oleh timnya untuk saling mendorong dengan mengandalkan ketangkasan serta keseimbangan.
Pemenang akan ditentukan berdasarkan kelompok yang mampu bertahan tanpa terjatuh. Sebaliknya, kelompok yang paling sering kehilangan keseimbangan dan terjatuh dinyatakan kalah.
Mejaran-jaranan tidak hanya dimaknai sebagai permainan atau ajang bersenang-senang bagi anak-anak. Permainan ini juga mengajarkan pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam mencapai sebuah tujuan.
Nah, itulah ulasan mengenai permainan rakyat mejaran-jaranan. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(iws/iws)










































