Bali adalah pulau yang sangat kaya akan budaya tradisional. Budaya tradisional di Bali mencakup berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam komunikasi. Masyarakat Pulau Dewata mempunyai alat komunikasi tradisional yang masih bertahan hingga kini, yakni kulkul.
Kulkul sudah digunakan oleh masyarakat Bali sejak ratusan tahun lalu. Kulkul tidak hanya berfungsi sebagai alat pemanggil, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, kedisiplinan, dan juga kearifan lokal. Suara kulkul masih sering terdengar di desa adat, pura, dan juga balai banjar di Bali.
Apa Itu Kulkul?
Kulkul merupakan salah satu alat komunikasi organisasi tradisional Bali berbentuk pentungan yang biasanya digunakan di desa adat, banjar adat, subak, dan seka. Kulkul diletakkan di sebuah tempat khusus yang disebut dengan bale kulkul.
Tata cara penggunaan kulkul biasanya sudah diatur dalam awig-awig (aturan dasar) desa adat atau organisasi tradisional setempat sebagai penanda atau memuat pesan tertentu, baik tentang keagamaan, kematian hingga informasi bencana. Setiap pesan memiliki ritme ketukan yang berbeda.
Karena fungsi religius dan sosial itu, kulkul biasanya ditempatkan pada bale dengan desain megah dan strukturnya yang gagah. Dengan begitu, bagi umat Hindu, kulkul bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga dianggap memiliki unsur religius karena merupakan peninggalan leluhur, berada di pura-pura, dan juga disakralkan oleh masyarakat.
4 Jenis Kulkul Sesuai Fungsinya
Alat komunikasi tradisional ini dibagi atas empat jenis sebagai berikut:
- Kulkul Dewa, digunakan untuk keperluan upacara keagamaan.
- Kulkul Bhuta, digunakan untuk kepentingan ritual yang berkaitan dengan keseimbangan alam.
- Kulkul Manusa, digunakan pada kepentingan sosial.
- Kulkul Hiasan, sebagai hiasan arsitektur atau simbol budaya.
Tri Brata Sandining Kulkul
Tri Brata Sandining Kulkul adalah tiga penyuara kulkul, yaitu meliputi, dharma, sila, dan sesana dengan arti sebagai berikut:
- Dharma, yang biasanya akan disuarakan ketika keperluan pelaksanaan upacara agama Hindu.
- Sila, disuarakan jika ada keperluan kemasyarakatan seperti gotong royong.
- Sesana, akan disuarakan untuk keperluan kemanusiaan atau peringatan bencana.
Berdasarkan pemaparan di atas, kulkul dapat membuktikan bahwa alat komunikasi tradisional tidak akan selalu tergeser dengan keberadaan teknologi. Selain itu, kulkul bagi masyarakat Bali juga bukan hanya sekadar alat pemukul kayu yang menghasilkan bunyi, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan keagamaan.
Simak Video "Video: Tradisi Mebuug-buugan Usai Nyepi, Ritual Lumpur untuk Penyucian Diri"
(hsa/hsa)