Daftar Isi
Hari Suci Siwaratri: Makna, Pantangan, hingga Kisah Lubdaka
Hari Suci Siwaratri dirayakan setahun sekali setiap purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih kepitu (bulan ke tujuh). Tahun ini, umat Hindu di Bali kembali merayakan Siwaratri pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Siwaratri berasal dari kata 'Siwa', yakni Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam fungsinya sebagai pelebur atau pemralina. Sedangkan 'ratri' berarti malam atau kegelapan. Perayaan Siwaratri menjadi momentum untuk introspeksi diri atas dosa yang telah diperbuat selama hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siwaratri di Bali kerap dikaitkan dengan kisah Lubdaka, seorang pemburu satwa yang mendapat pengampunan dosa dari Dewa Siwa. Simak serba-serbi mengenai Hari Suci Siwaratri, pantangan, hingga kisah Lubdaka seperti dirangkum detikBali berikut ini.
Apa Itu Siwaratri?
Menurut ajaran Hindu, Siwaratri adalah malam paling gelap dalam satu tahun sekaligus momentum paling tepat untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa. Malam ini dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk melakukan refleksi dan penyadaran diri.
Untuk mencapai sebuah kesadaran diri itu, umat Hindu melakukan Brata Siwaratri. Ini merupakan serangkaian prosesi perenungan dosa, pengendalian hawa nafsu, dan memohon pengampunan kepada Dewa Siwa.
Pantangan atau Brata Siwaratri
Menurut konsep Hindu, manusia dibelenggu oleh bhuta kala (sifat buruk) yang ada dalam dirinya. Diperlukan serangkaian cara untuk mengembalikan jasmani dan rohani agar sesuai dengan jalan dharma (sifat baik) melalui Brata Siwaratri.
Brata Siwaratri atau pantangan saat malam Siwaratri dilakukan dengan upawasa (berpuasa), mona (tidak bicara), jagra (tidak tidur). Tujuan melaksanakan Brata Siwaratri adalah untuk menghilangkan papa dalam diri manusia.
Papa berarti sebuah kesengsaraan, keburukan, kejahatan, dan hina yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, Brata Siwaratri tidak hanya dimaknai sebagai sebuah ritual, tetapi sebagai proses untuk melakukan penyucian diri secara lahir dan batin.
1. Upawasa (berpuasa)
Upawasa adalah bentuk pengendalian diri dengan cara tidak makan dan minum. Ini juga berarti mengendalikan diri untuk memakan dan meminum yang baik untuk kesehatan tubuh.
Upawasa mengajari manusia untuk sadar akan dirinya sendiri, sehingga ia mencari makanan dan minuman dengan cara yang benar. Oleh karena itu, ini menjadi latihan awal untuk mengendalikan hawa nafsu dan melatih keteguhan diri dalam menghadapi keinginan.
2. Monabrata (tidak berbicara)
Tidak berbicara yang dimaksud dalam praktik ini bukan semata-mata harus diam, tetapi harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan perkataan dan selalu berbicara dalam keadaan sadar.
Umat Hindu diajak untuk lebih banyak merenung dan mengamati pikiran diri sendiri. Monabrata menanamkan bahwa kata-kata memiliki pengaruh besar dan dapat membawa dampak baik maupun buruk.
Melalui Monabrata, manusia diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara dan membangun ketenangan batin melalui sikap diam yang penuh makna.
3. Jagra (tidak tidur)
Jagra berarti berjaga atau tidak tidur sepanjang malam Siwaratri. Ini melambangkan sebuah kewaspadaan dan kesadaran penuh terhadap diri sendiri.
Dengan tidak tidur, umat Hindu diajak untuk melawan kemalasan dan kelemahan dalam diri yang sering menguasai manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jagra menjadi simbol kesadaran spiritual agar manusia selalu waspada terhadap pikiran dan perbuatannya.
Ketiga bagian Brata Siwaratri diatas saling melengkapi dalam membentuk kesadaran diri manusia agar tidak terikat sepenuhnya dengan kehidupan duniawi dan melepaskan diri dari sifat buruk. Upawasa melatih pengendalian tubuh, Monabrata mengendalikan ucapan dan pikiran, serta Jagra menumbuhkan kewaspadaan batin.
Nilai-nilai Brata Siwaratri menjadi semakin sangat relevan untuk dilakukan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan dan godaan. Pengendalian diri, kesadaran batin, dan kemampuan menahan hasrat adalah bekal penting untuk menjaga keseimbangan dan keamanan hidup.
Ajaran Brata Siwaratri mengingatkan manusia agar tidak larut dalam kesenangan sesaat, tetapi mampu mengarahkan hidup pada nilai-nilai spiritual.
Kisah Lubdaka dan Siwaratri
Kisah ini bermula ketika Lubdaka pergi berburu ke tengah hutan. Namun, hingga hari menjelang gelap, Lubdaka tak kunjung mendapatkan target buruannya.
Malam itu, Lubdaka memutuskan untuk beristirahat di sebuah pohon bila di pinggir telaga. Ia memetik satu per satu daun bila dan menjatuhkannya ke bawah untuk berjaga-jaga agar tak tertidur jika hewan buas datang.
Tanpa disadari, daun tersebut mengenai lingga pemujaan terhadap Dewa Siwa di bawahnya. Lubdaka pun tak tahu bahwa malam itu adalah Siwaratri, malam ketika Dewa Siwa melakukan yoga.
Ketika itulah, Lubdaka mulai menyesali perbuatan buruk yang pernah dia lakukan selama hidup. Di atas pohon bila itu, dia bertekad berhenti menjadi pemburu dan beralih profesi menjadi petani.
Suatu hari, Lubdaka meninggal dunia. Konon rohnya kebingungan hingga pasukan raksasa Cikrabala datang untuk membawanya ke kawah Candragomuka di neraka.
Alkisah, Dewa Siwa mencegat pasukan Cikrabala yang hendak membawa roh Lubdaka ke kawah Candragomuka. Terjadilah perdebatan antara Dewa Siwa dengan pasukan Cikrabala.
Pasukan Cikrabala merasa roh Lubdaka harus dibawa ke neraka karena semasa hidupnya kerap membunuh binatang. Sementara itu, Dewa Siwa memberi pembelaan bahwa meski Lubdaka kerap membunuh binatang, tapi dia begadang semalam suntuk dan menyesali dosa-dosanya saat malam Siwaratri.
Menurut Dewa Siwa, Lubdaka berhak mendapatkan pengampunan hingga akhirnya rohnya dibawa ke Siwa Loka (surga). Meski begitu, penafsiran mengenai kisah ini juga diwarnai kontroversi karena dinilai tidak sejalan dengan hukum karma.
Walhasil, Hari Suci Siwaratri dianggap lebih pantas dijadikan sebagai momentum untuk penyadaran diri dan memperbaiki kehidupan dengan berlandaskan ajaran dharma.
(iws/iws)










































