Mengenal Sakeco, Tradisi Tutur Sarat Makna dari Sumbawa

Mengenal Sakeco, Tradisi Tutur Sarat Makna dari Sumbawa

I Komang Murdana - detikBali
Minggu, 31 Agu 2025 03:30 WIB
Sakeco, tradisi lisan masyarakat Sumbawa. (Dok. Ditjen Kebudayaan Kemendikbud)
Foto: Sakeco, tradisi lisan masyarakat Sumbawa. (Dok. Ditjen Kebudayaan Kemendikbud)
Sumbawa Barat -

Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki tradisi lisan yang hingga kini masih dipertahankan. Tradisi lisan ini sering dibawakan saat ada kegiatan adat atau acara resmi. Salah satu tradisi lisan yang dimiliki oleh etnis Samawa adalah sakeco.

Sakeco merupakan tradisi lisan yang dipertunjukan untuk mewakili masyarakat dalam mengungkapkan rasa cinta, sedih, kritik, dan nasihat. Pertunjukan tradisi sakeco terus dilestarikan oleh masyarakat etnis Sumbawa sebagai bentuk rasa hormat terhadap nenek moyang yang telah mewariskanya.

Bagi orang Sumbawa, seni ini digunakan untuk memeriahkan upacara adat, seperti ramai mesa, sunatan (khitanan), dan tokal basai. Sakeco adalah kearifan lokal yang harus dipertahankan di tengah kemajuan teknologi saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Tradisi Sakeco

Sakeco merupakan tradisi yang berkembang dari bentuk seni lawas, yaitu akar dari kesenian lisan dan sastra masyarakat etnis Samawa. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi.

Sakeco memiliki istilah yang berasal dari kata 'keco' (bahasa Sumbawa) yang berarti 'kicau' dalam bahasa indonesia. Di Sumbawa, keco dikatakan kepada orang yang suka berbicara atau orang yang pandai dalam bercerita tentang sejarah dan mengembangkan sebuah cerita.

Ketika menemukan orang seperti ini, biasanya masyarakat akan mengatakan 'na nyaman keco na' yang memiliki arti 'betapa indahnya orang berbicara atau berpidato'. Sakeco dinyanyikan oleh dua orang laki-laki yang saling bersahutan, seperti burung bernyanyi dan saling menyambut satu sama lain.

Namun, seiring waktu, sakeco tidak hanya didominasi oleh laki-laki, tetapi juga mulai digemari kalangan wanita. Beberapa kecamatan saat ini terdapat group sakeco perempuan. Di sebuah festival budaya, pernah diujicobakan untuk menggabung antara sekeco laki-laki dan perempuan.

Perkembangan sakeco makin pesat pada 2003 saat Kecamatan Sumbawa Besar mengalami pemekaran menjadi Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Dari sinilah Sakeco mulai berkembang dan ada pertandingan antardaerah maupun antarsekolah sebagai bentuk pelestarian tradisi sakeco.

Puncaknya pada 2009, pemerintah KSB memiliki misi untuk mengembangkan pariwisata dan kebudayaan setempat. Karena, untuk menarik para wisatawan melalui budaya, sakeco pun mengalami perkembangan menjadi sakeco reggae sebagai tradisi modern yang tidak lagi tampil dengan rebana, melainkan musik elektronik.

Makna dan Filosofi Sakeco

Sakeco memiliki makna yang dalam bagi kehidupan masyarakat etnis Samawa. Selain sebagai media hiburan, sekeco juga sebagai media untuk menyampaikan nasihat, kisah kepahlawanan hingga nilai-nilai kehidupan. Penyampaiannya menggunakan syair-syair atau pantun yang dilantunkan dengan irama khas Sumbawa dengan diiringi alat musik tradisional berupa rebana.

Bagi masyarakat etnis Samawa, setiap kata yang dilantunkan dalam pertunjukan sakeco memiliki arti yang mendalam tentang nasihat kehidupan, mengandung ajaran moral, pesan kebaikan, dan nilai-nilai spiritual Islam. Hal ini menunjukkan sakeco memiliki fungsi sebagai pedoman hidup yang menanamkan nilai kebaikan dalam masyarakat.

Dengan ini, maka sakeco tidak hanya berhenti pada bentuk kesenian saja. Namun, bisa menjadi media dalam menyebarkan kerukunan, pendidikan karakter dan identitas masyarakat etnis Samawa.

Bentuk dan Ciri Khas Sakeco

Berbeda dengan kesenian pada umumnya, sakeco adalah seni yang sangat luwes dan dinamis dengan dapat dimuati oleh lawas nasihat, lawas tau loka, lawas muda-mudi, lawas tode yang dibuat dalam bentuk tutur (cerita naratif).

Ciri khasnya pertunjukan sakeco dibawakan oleh dua pria yang merupakan pasangannya dan masing-masing memegang satu rebana. Rebana yang digunakan adalah rebana ode atau rebana rango (rebana besar). Penggunaan dua jenis rebana ini didasarkan pada temung yang akan digunakan.

Perbedaan penggunaan dua jenis rebana ini karena perbedaan temung (nada lagu) dan isi yang akan disampaikan pada saat sakeco. Rebana ode digunakan saat pertunjukan menggunakan temung ano rawi karena akan menghasilkan suara lebih lincah, agresif, lebih variatif, dan jika ditabuh, maka akan lebih cepat.

Sedangkan rebana kebo digunakan saat pertunjukan menggunakan temung ano siup yang membutuhkan suara lebih besar, temponya lambat, dan juga lebih monoton dari segi nada.

Peran Tradisi Sakeco dalam Kehidupan Masyarakat

Tradisi sakeco memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh dan berkembangnya kehidupan masyarakat etnis Samawa. Tradisi sakeco berperan sebagai penguat identitas etnis samawa. Dengan adanya tradisi ini dapat menjadi media untuk merekatkan tali silaturahmi sesama masyarakat sumbawa, dan sebagai bentuk pelestarian atas warisan yang sudah diberikan oleh nenek moyang.

Sakeco menjadi salah satu bukti masyarakat Sumbawa memiliki beragam tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang dan dilestarikan hingga saat ini ke anak cucunya. Sakeco sudah menjadi identitas bagi masyarakat Samawa.

Halaman 2 dari 5


Simak Video "Belajar Menenun Kain Tenun Tradisional Sumbawa dengan Tangan Terampil "
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads