Tari Tanak Eneng Ujan, Tradisi Tau Samawa untuk Memohon Hujan di Musim Kemarau

Tari Tanak Eneng Ujan, Tradisi Tau Samawa untuk Memohon Hujan di Musim Kemarau

i k - detikBali
Sabtu, 30 Agu 2025 07:30 WIB
Tari Tanak Eneng Ujan. (Tangkap Layar Pinterest)
Foto: Tari Tanak Eneng Ujan. (Tangkap Layar Pinterest)
Sumbawa -

Tau Samawa (penduduk asli) di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki kesenian tari yang hingga saat ini masih dilestarikan dan sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Tari Tradisional Samawa adalah seni tari yang berkembang di daerah Sumbawa yang memiliki sejarah dan dijadikan sebagai pedoman untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Ada banyak sekali Tari Tradisional Samawa yang tercipta atau tercermin dari kegiatan yang dilakukan oleh Tau samawa, misalnya berkaitan dengan pertanian, ekonomi, alam, sosial, dan agama. Salah satunya adalah Tari Tanak Eneng Ujan, Tarian yang tercermin dari kondisi alam yang tidak baik bagi Tau samawa, khususnya bagi petani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penasaran? Yuk, disimak! Informasi ini dirangkum dari situs resmi kebudayaan Sumbawa.

Pengertian Tarian Samawa

ADVERTISEMENT

Seni tari Tau Samawa adalah seni yang mengekspresikan nilai batin melalui gerak yang indah dari tubuh dan mimik. Seni tari tau samawa secara umum memiliki aspek-aspek gerak, ritmis, keindahan, dan ekspresi.

Selain itu, seni tari Tau Samawa memiliki unsur-unsur ruang, tenaga dan waktu. Sebagai suatu kegiatan seni, tari tradisional Tau Samawa memiliki beberapa fungsi yaitu:

  • Seni tari sebagai sarana upacara keagamaan.
  • Seni sebagai hiburan yang diperuntukkan untuk menghilangkan kebosanan, dan menjenuhkan.
  • Seni tari sebagai penyaluran terapi. Biasanya untuk penyandang cacat fisik atau cacat mental.
  • Seni tari sebagai media pendidikan. Tari ini seperti mendidik anak untuk bersikap dewasa dan menghindari tingkah laku yang menyimpang.
  • Seni tari sebagai sarana untuk melakukan permohonan.

Tari Tanak Eneng Ujan

Tari Tanak Eneng ujan terdiri dari tiga kata, tanak yang berarti tanah. Eneng di artikan meminta, sedang ujan diartikan sebagai hujan. Jadi Tari Tanak Eneng Ujan adalah proses untuk meminta hujan di tanah Samawa yang sedang mengalami musim kemarau panjang.

Tari ini hanya bisa ditampilkan apabila terjadi musim kemarau yang panjang. Tarian ini biasanya ditampilkan di dua lokasi, tergantung dibawakan di pagi atau malam hari.

Jika dilaksanakan pada pagi hari maka lokasi kegiatan di lapangan terbuka dekat dengan pegunungan atau areal pertanian, sedangkan bila malam hari dilakukan di tengah perkampungan. Tarian ini melibatkan banyak masyarakat untuk ikut menari sambil menembangkan syair-syair permohonan hujan yang ditujukan kepada tuhan yang maha kuasa.

Pencipta dari Tari Tanak Eneng ujan sampai saat ini tidak dikenal karena lebih bersifat spiritual serta diduga sudah ada sejak zaman hindu karena penyebutan hujan dalam syairnya adalah Dewa Ngarobok.




(nor/nor)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads