Tradisi Nuja Rame, Warisan Nenek Moyang yang Jadi Perekat Sosial Warga Sumbawa

Tradisi Nuja Rame, Warisan Nenek Moyang yang Jadi Perekat Sosial Warga Sumbawa

I Komang Murdana - detikBali
Jumat, 29 Agu 2025 11:35 WIB
Tradisi Nuja Rame di Sumbawa, NTB. (Foto: sumbawakab.go.id)
Tradisi Nuja Rame di Sumbawa, NTB. (Foto: sumbawakab.go.id)
Sumbawa -

Masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki berbagai tradisi warisan nenek moyang yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Nuja Rame.

Tradisi Nuja Rame menjadi perekat sosial dalam memperkuat kebersamaan bagi masyarakat Sumbawa. Kegiatan ini dilaksanakan secara turun-temurun dan dirangkai dalam hajatan besar di Sumbawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simak ulasan mengenai tradisi Nuja Rame bagi masyarakat Sumbawa berikut ini.

Mengenal Tradisi Nuja Rame

Nuja Rame adalah kegiatan menumbuk padi beramai-ramai yang dilakukan oleh masyarakat desa di Sumbawa. Umumnya, tradisi ini melibatkan kalangan perempuan atau ibu-ibu yang ada di desa tersebut.

ADVERTISEMENT

Nuja Rame biasanya dilakukan saat acara-acara tertentu sebagai wujud gotong royong. Tradisi ini juga kerap digelar saat perayaan hari besar lainnya.

Di beberapa desa, tradisi Nuja Rame dilakukan pada saat masa panen sudah berakhir. Mereka kemudian mengumpulkan hasil panen secara sukarela untuk kemudian disumbangkan. Hasil panen itu digunakan untuk membantu pembangunan desa, terutama pembangunan masjid.

Prosesi Nuja Rame

Tradisi Nuja Rame diawali dengan prosesi iring-iringan para perempuan yang membawa hasil panen. Padi dan aneka hasil pertanian lainnya dibawa menuju lokasi utama pelaksanaan Nuja Rame.

Setelah itu, hasil panen tersebut dikumpulkan menjadi satu dan ditaruh di dalam lesung yang sudah dihias sedemikian rupa. Setelah acaranya dibuka, perempuan-perempuan itu mulai menabuh lesung (bagonteng) yang sudah terisi dengan hasil panen dengan alu.

Menariknya, para ibu yang mengikuti prosesi itu menggunakan batedung tuntang (kain penutup kepala khas Sumbawa). Mereka juga mengenakan pakaian adat Samawa sembari melantunkan pantun dengan syair bahasa daerah Sumbawa.

Tradisi ini juga bisa dilakukan pada saat prosesi pernikahan. Namun, kini sistem Nuja Rame sudah bergeser karena para peserta dibayar oleh pemilik hajatan.

Nilai yang Terkandung dalam Nuja Rame

Nuja Rame tidak hanya menjadi wujud rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen. Tradisi ini juga menunjukkan hidupnya mekanisme sosial di Sumbawa.

Prosesi dalam tradisi Nuja Rame memadukan elemen spiritual, budaya, dan pembangunan. Tradisi ini mencerminkan modal sosial yang kuat serta kepercayaan kolektif dalam dalam upaya pembangunan dari bawah.

Hal itu dapat dilihat dari warga yang sukarela menyumbangkan hasil panen untuk pembangunan desa. Momen itu bahkan menjadi media pelestarian batedung tuntang karena kain kas Sumbawa itu digunakan para peserta saat Nuja Rame berlangsung.




(iws/iws)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads