Nilai ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) anjlok mencapai 11,44% pada Juni 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, nilai ekspor NTB pada Juni 2026 hanya mencapai mencapai US$ 83 juta.
"Nilai ekspor NTB pada Juni 2026 menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan ekspor barang non tambang pada kelompok tembaga hasil industri smelter serta kelompok ikan dan udang," kata Kepala BPS NTB, Wahyudin, Senin (3/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyudin menuturkan kelompok komoditas ekspor terbesar pada Juni 2026 adalah tembaga sebesar 88,36%, disusul perhiasan/permata 9,47%, ikan dan udang 1,55%, garam 0,28%, daging dan ikan olahan 0,20%, mesin/peralatan listrik 0,14%, serta komoditas lain 0,01%.
Sementara berdasarkan negara, nilai ekspor terbesar terjadi di Thailand sebesar US$ 47 juta atau 57%, disusul Korea Selatan US$ 20 juta (24,76%), Hongkong US$ 7 juta (8,61%), Tiongkok US$ 5,6 juta (6,84%), Amerika Serikat US$ 1,4 juta (1,70%), Australia US$ 681 ribu (0,82%), Jepang US$ 80 ribu (0,10%), India US$ 56 ribu (0,07%), Vietnam US$ 32 ribu (0,04%), dan negara lainnya US$ 52 ribu (0,06%).
Selain ekspor, nilai impor NTB juga mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya impor bahan baku/penolong dan barang modal.
"Kelompok komoditas yang paling tinggi mengalami penurunan impor ialah kelompok mesin-mesin atau pesawat mekanik, kelompok karet dan barang dari karet. Serta kelompok mesin/peralatan listrik," terang Wahyudin.
Berdasarkan data BPS, impor terbesar berasal dari Jepang 53,34%, Kanada (14,50%), Amerika Serikat (12,67%), Singapura (10,59%), Australia (6,83%), dan Tiongkok (2,08%).