detikBali

618 Jamban Keluarga Dibangun di Dompu, Warga Tak Lagi BAB Sembarangan

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

618 Jamban Keluarga Dibangun di Dompu, Warga Tak Lagi BAB Sembarangan


Faruk Nickyrawi - detikBali

Seorang penerima manfaat program jamban keluarga dari PT STM Huu, Juhra (50)
Seorang penerima manfaat program jamban keluarga dari PT STM Hu'u, Juhra (50) (Foto: Dok PT STM)
Dompu -

Warga delapan desa di Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) kini tak akan lagi BAB sembarangan. 618 Unit jamban keluarga sudah terbangun di wilayah tersebut.

Program Jamban Keluarga PT Sumbawa Timur Mining (STM) telah menjangkau 2.472 penerima manfaat. Jumlah jamban itu merupakan hasil yang dibangun sejak dijalankan secara bertahap mulai tahun 2017 dengan nilai program sekitar Rp4,3 miliar.

Community Relations Manager STM, Ulya Defretes mengatakan, program tersebut mendukung upaya dalam mewujudkan wilayah yang terbebas dari praktik buang air besar sembarangan atau Zero BABS yang dalam agenda sanitasi global dikenal dengan istilah open defecation free (ODF).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program ini bertujuan mendukung upaya Pemkab Dompu menghapuskan praktik buang air besar sembarangan, atau lebih dikenal dengan slogan 'Zero BABS' di Kecamatan Hu'u," ujarnya dalam keterangan pada detikBali Selasa (28/7/2026).

Ulya Defretes mengungkapkan, program jamban keluarga ini diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti warga lanjut usia, perempuan kepala keluarga, keluarga yatim, dan keluarga prasejahtera.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik Kabupaten Dompu 2025, jumlah penerima manfaat program ini setara dengan sekitar 11,15 persen dari total penduduk Kecamatan Hu'u, sehingga perluasan akses sanitasi masih menjadi kebutuhan penting di wilayah Hu'u.

Dia melanjutkan, Profil Kesehatan Kabupaten Dompu 2024 mencatat sebanyak 1.443 kepala keluarga atau 29,9 persen keluarga di Kecamatan Hu'u belum memiliki akses terhadap sanitasi layak.

"Kondisi ini berpotensi membuat warga menggunakan sungai atau tempat terbuka untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang berisiko mengakibatkan diare, kolera, disentri, dan penyakit infeksi lainnya," ujarnya.

Salah seorang penerima manfaat, Juhra (50) mengaku bersyukur mendapatkan bantuan jamban dari PT STM. Juhra yang merupakan perempuan kepala keluarga di Desa Rasabou, dengan bekerja sebagai buruh tani hingga mengasuh anak tetangga dengan penghasilan tak tetap ini tidak memiliki uang untuk membangun jamban sendiri.

"Saya luar biasa senang setelah sekian lama harus menumpang ke rumah tetangga dan ke sungai untuk buang hajat. Bantuan ini benar-benar kami butuhkan," tutur Juhra.

Juhra dan keluarganya tidak lagi mengandalkan sungai yang ada di dekat rumah nya untuk membuang hajat. Jamban berukuran 1,5 meter telah dibangun di samping rumahnya.



(mud/mud)









Hide Ads