detikBali

Kenaikan BBM Penyumbang Inflasi Terbesar di Bali pada Juni 2026

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Kenaikan BBM Penyumbang Inflasi Terbesar di Bali pada Juni 2026


Nathea Citra, Fabiola Dianira - detikBali

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan saat ditemui di kantor BPS Provinsi Bali, Rabu (1/7/2026).
Foto: Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan saat ditemui di kantor BPS Provinsi Bali, Rabu (1/7/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green per 1 Juni lalu menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi di Bali pada Juni 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi Juni 2026 terhadap Mei 2026 (month-to-month) sebesar 0,71 persen. Komoditas bensin menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi sebesar 0,31 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menjelaskan bahwa angka tersebut tergolong relatif tinggi karena beberapa peristiwa yang terjadi secara bersamaan, yakni Hari Raya Galungan dan kenaikan harga BBM nonsubsidi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang pertama Galungan. Galungan kan pasti inflasi. Komoditasnya makanan, minuman, dan tembakau itu komoditas utama dengan andil besar karena bobotnya paling besar. Yang kedua tadi ada kenaikan BBM nonsubsidi, jadi berlipat-lipat dorongannya untuk kenaikan harga," ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Bensin menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan dengan tingkat inflasi mencapai 6,04 persen dan memberikan andil sebesar 0,31 persen. Disusul bawang merah yang mengalami inflasi sebesar 14,38 persen dengan andil 0,10 persen, serta bawang putih yang mencatat inflasi 15 persen dengan andil 0,07 persen.

ADVERTISEMENT

Sejumlah komoditas lainnya yang turut mendorong inflasi antara lain wortel, buncis, beras, pisang, minyak goreng, serta daging babi yang selalu mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan pada periode Galungan.

Agus memperkirakan dampak kenaikan BBM nonsubsidi masih berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas lainnya dalam jangka panjang karena biaya distribusi dan transportasi ikut meningkat.

"Dalam jangka panjang bisa jadi, karena hampir semua pergerakan perekonomian kan membutuhkan itu ya. Orang mau mengangkut bahan bakunya, orang mengangkut bahan jualannya, dan sebagainya. Tapi yang subsidi kan belum," imbuhnya.

Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi Bali pada Juni 2026 menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni sebesar 3,27 persen. Kenaikan harga BBM juga menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 0,32 persen, seiring inflasi komoditas bensin yang mencapai 6,12 persen dibandingkan Juni 2025.

Berdasarkan wilayah, Kabupaten Tabanan mencatat inflasi bulanan tertinggi dengan angka 0,92 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Kota Denpasar dengan inflasi sebesar 0,75 persen, disusul Kabupaten Badung sebesar 0,69 persen. Sementara itu, Kabupaten Buleleng menjadi wilayah dengan tingkat inflasi bulanan terendah, yakni sebesar 0,46 persen.

Inflasi di NTB

Sementara itu, laju pergerakan harga konsumen di Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat mengalami inflasi 0,37 persen pada Juni 2026. Kenaikan harga BBM juga menjadi pemicu utama inflasi pada pertengahan tahun ini.

"Inflasi pada Juni 2026 didorong oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi. Khususnya komoditas bensin dan tarif angkutan udara," kata Kepala BPS NTB, Wahyudin, saat rilis data inflasi di kantornya, Rabu.

"Inflasi pada komoditas bensin disebabkan oleh kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Turbo yang secara resmi mengalami penyesuaian harga pada Juni 2026," sambungnya.

Lanjut Wahyudin, kenaikan tarif angkutan udara dipengaruhi oleh meningkatnya biaya operasional maskapai. "Terutama akibat kenaikan harga bahan bakar avtur," jelasnya.

Selain kenaikan harga BBM dengan andil inflasi 0,12 persen, Wahyudin menyebut sejumlah komoditas lain juga turut memberikan andil inflasi pada Juni 2026. Komoditas tersebut antara lain, bawang merah 0,05 persen, bawang putih 0,03 persen, cumi-cumi 0,03 persen, kol putih/kubis 0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru mencatatkan deflasi pada Juni 2026. Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai rawit dengan andil deflasi 0,11 persen, daging ayam 0,06 persen, ikan layang/ikan benggol 0,02 persen. Kemudian disusul jagung manis 0,01 persen dan emas perhiasan 0,01 persen.


"Namun demikian, tekanan inflasi pada Juni ini tertahan oleh harga beberapa komoditas. Misalnya, penurunan harga cabai rawit yang dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan seiring berlangsungnya masa panen," imbuhnya.

"Sedangkan penurunan harga ayam terjadi akibat pasokan yang melimpah di tengah permintaan yang relatif stabil. Adapun penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan melemahnya harga emas global," ungkapnya.

Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 0,41 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,27. Selanjutnya disusul Kota Bima dengan inflasi 0,36 persen dan IHK 113,39 persen. Sementara itu, Kota Mataram 0,35 persen dengan IHK 112,64.

"Semua wilayah IHK di NTB mengalami inflasi bulanan. Dan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa," ujarnya.




(hsa/hsa)










Hide Ads