detikBali

Selat Hormuz Dibuka Usai AS dan Iran Damai, Harga Pertamax di RI Turun?

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Selat Hormuz Dibuka Usai AS dan Iran Damai, Harga Pertamax di RI Turun?


Herdi Alif Al Hikam - detikBali

Ilustrasi isi BBM
Ilustrasi BBM. (Foto: dok. Pertamina Patra Niaga)
Denpasar -

Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terlibat perang selama beberapa bulan terakhir mengumumkan damai. Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran kapal minyak terbesar di dunia juga kembali dibuka.

Lantas, apakah perdamaian AS dengan Iran itu memungkinkan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax di Indonesia?

Dilansir dari detikFinance, harga BBM nonsubsidi berpeluang turun. Tak terkecuali Pertamax yang harganya naik belum lama ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengungkapkan penentuan harga BBM nonsubsidi disesuaikan dengan harga keekonomian. Bila harga minyak dunia turun, maka harga jual Pertamax cs juga bisa turun.

ADVERTISEMENT

"Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya," beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

"Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," imbuhnya.

Diketahui, harga minyak dunia anjlok sekitar 5 persen pada perdagangan hari Selasa dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar global.

Menurut laporan Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 4,21 atau 5,1 persen menjadi US$ 78,96 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,70 atau 5,8 persen menjadi US$ 76,05 per barel.

Penutupan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret. Sebagai perbandingan, sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari, harga Brent ditutup di level US$ 72,48 per barel dan WTI berada di US$ 67,02 per barel.

Anggia lantas menyebut harga BBM nonsubsidi di berbagai negara tetangga yang sudah lebih dulu naik. Menurutnya, Indonesia sempat mencoba menahan kenaikan harga tersebut demi menjaga daya beli masyarakat.

"Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat, ada diskusi dengan badan usaha pelat merah dan badan usaha swasta untuk mempertahankan BBM subsidi," kata Anggia.

"Tapi seiring berjalannya waktu fluktuasi harga yang makin dinamis pelaku usaha sesuaikan harga keekonomiannya," sambungnya.

Anggia pun kembali menekan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi bisa saja dilakukan. Terlebih bila harga minyak dunia terus mengalami pelemahan.

"Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun nggak? Pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi," beber Anggia.

Sementara itu, anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat juga buka suara mengenai peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi menyusul turunnya harga minyak dunia. Firman menjelaskan saat ini harga minyak mentah Brent sudah turun di bawah US$ 80 per barel.

"Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun. Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi," ungkap Firman kepada wartawan di kantor Kementerian PPN/Bappenas.

Firman meyakini perjanjian damai secara konsisten akan menahan harga minyak dunia di bawah US$ 80 per barel. Apalagi saat ini pasokan minyak dunia relatif mengalami surplus.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!




(iws/iws)











Hide Ads