Suasana di rumah produksi dupa milik Putu Darta Yasa di Desa Werdhi Buwana, Kecamatan Mengwi, Badung, tampak lengang. Menjelang Hari Raya Galungan yang biasanya menjadi momen sibuk untuk meningkatkan produksi, aktivitas di tempat usaha tersebut justru berjalan normal dengan hanya beberapa pekerja yang datang.
"Kalau Galungan sekarang, berbeda dengan Galungan yang sesudah lewat itu. Sekarang ya kayaknya rata saja, tidak ada lonjakan," kata Putu Darta Yasa saat ditemui di lokasi produksinya, Senin (8/6/2026).
Menurut Darta Yasa, kondisi pasar yang lesu membuat volume pesanan tidak mengalami peningkatan berarti. Berbeda dengan perayaan Galungan sebelumnya enam bulan lalu, ketika seluruh stok bahkan habis terjual dua minggu sebelum puncak hari raya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Galungan sebelumnya, sudah dua minggu sebelum Galungan istilahnya sudah cuci gudang. Kalau Galungan sekarang ya rata aja gitu, tidak ada perbedaan jadinya," ujar Darta Yasa.
Dalam kondisi normal, tempat usaha tersebut mampu memproduksi sekitar 300 kilogram dupa biasa dan 200 kilogram dupa harum per hari. Saat momentum menjelang Galungan, kapasitas produksi umumnya ditingkatkan hingga mencapai 300 sampai 400 kilogram per hari untuk masing-masing jenis dupa.
Meski demikian, Darta Yasa mengaku keuntungan yang diperoleh dari usaha tersebut semakin menipis. Penjualan dupa dipatok dengan harga berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram, bergantung pada kualitas produk.
"Kalau tiap bulan, ndak tentu, ya kita kan produksi semampunya aja. Tapi ini kan memang tipis marginnya," keluh Darta Yasa terkait keuntungan yang menipis.
Kendati margin keuntungan terus menyusut, usaha produksi dupa itu tetap dijalankan untuk menjaga keberlangsungan lapangan kerja bagi warga sekitar.
"Kami bisa produksi, ya istilahnya buat buka lapangan kerja aja. Pokoknya dapat buat makan, buat bayar cicilan ya dijalanin aja," ucap Darta Yasa.
Selain dipengaruhi lesunya permintaan pasar, produktivitas usaha juga terdampak berkurangnya jumlah tenaga kerja yang masuk menjelang Hari Raya Galungan. Banyak perajin lokal harus membagi waktu untuk mengikuti berbagai kegiatan adat di lingkungan masing-masing.
"Kalau normal kayaknya, normal sih, cuma tenaga kerja yang bekerja itu kurang karena pengaruh karena ada acara adat, kan dekat-dekat Galungan itu kan banyak. Iya, karena tenaga kerja lokal semua, nggak ada tenaga-tenaga impor," pungkas Darta Yasa.