Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp 18 ribu pada Kamis (4/6/2026) belum menggoyahkan keyakinan para investor asal AS terhadap prospek investasi di Bali. Pelaku usaha menilai berbagai sektor masih memiliki peluang untuk tumbuh, khususnya pariwisata.
General Manager The Westin Resort & Spa Ubud, Marriott International, Saraswati Subadia, mengatakan penguatan dolar justru memberikan dampak positif bagi industri perhotelan.
"Dampak dolar itu buat kami di hospitality industry, di hotel itu justru membaik ya sebetulnya. Jadi bisnis yang saat ini terjadi sudah kembali, belum 100% normal, tapi sudah naik ya angka 10%," ujarnya dalam acara Executive Briefing yang diadakan oleh US-ASEAN Business Council (USABC) di Kuta, Badung, Kamis (4/6/2026).
Menurut Saraswati, penguatan dolar juga tidak terlalu memengaruhi operasional hotel karena sebagian kebutuhan bahan baku dan operasional melibatkan pemasok lokal.
Sementara itu, perwakilan USABC, Angga Antagia menanggapi pertanyaan mengenai dampak penguatan dolar AS terhadap keraguan investasi perusahaan-perusahaan Amerika di Indonesia.
Ia menilai dunia usaha selalu berupaya mencari peluang di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Penguatan dolar maupun gangguan rantai pasok global tidak membuat perusahaan-perusahaan AS kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia.
"Jadi in spite dolar yang yang sedang meroket, kemudian juga mungkin supply terpengaruh secara global, tapi kami meyakini bahwa setiap sektor industri di member USABC selalu menemukan jalan karena Indonesia tidak bisa ditinggalkan begitu aja gitu," jelasnya.
Menurut Angga, Indonesia tetap menjadi pasar strategis bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Bahkan, sejumlah perusahaan anggota USABC telah berinvestasi di Indonesia selama puluhan hingga lebih dari 100 tahun.
"Jadi, ini tidak serta merta membuat kemudian kita akan mundur tidak. Tapi mencari peluang apa yang bisa dikembangkan, apa yang bisa dilihat sisi positifnya, dan menavigasi resikonya biar tidak berdampak lebih luas lagi," imbuhnya.
Meski optimistis, Saraswati mengakui sektor perhotelan lebih menyoroti isu energi sebagai salah satu risiko yang perlu diantisipasi. "Banyak kita harus perhatikan adalah dari sisi energi. Nah, itu yang memang saat ini kita harus lebih memperhatikan, pasokannya dari mana," ungkapnya.
Saraswati mencontohkan kesiapan pasokan listrik, stok genset, hingga ketersediaan bahan bakar seperti solar menjadi perhatian industri hotel di Bali.
Meski demikian, Saraswati menilai Bali masih memiliki daya saing tinggi sebagai destinasi wisata dan investasi, khususnya di sektor pariwisata.
"Dari sisi kompetitif tentunya Bali, Pulau Bali itu masih sangat seksi untuk menjadi destinasi kompetisi khususnya di bidang pariwisata," tutupnya.
Simak Video "Video: Turis India Curi Hair Dryer-Box Remote TV Punya Hotel di Ubud"
(hsa/iws)