Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Kabupaten Malaka dan Alor menyepakati tambahan modal Rp 38 miliar untuk Bank NTT. Keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) itu juga membuka peluang penyertaan modal non-tunai demi memperkuat pengembangan bank daerah tersebut.
Kesepakatan itu diambil dalam RUPS Tahunan PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) Tahun Buku 2025 dan RUPS Luar Biasa Tahun 2026.
"Kami menyepakati juga ada penambahan modal, baik itu dari Kabupaten Malaka tambah Rp 5 miliar, Kabupaten Alor Rp 3 miliar, dan Pemerintah Provinsi Rp 30 miliar," kata Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT, Selasa (26/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain tambahan uang tunai, rapat juga menyepakati inbreng atau penyertaan modal non-tunai berupa aset seperti tanah yang dibutuhkan untuk pengembangan Bank NTT.
"Dan juga menyepakati ada inbreng atau penggunaan di luar uang. Misalnya tanah dan sebagainya, yang terkait dengan kebutuhan bangun bisa masuk menjadi bagian dari penyertaan modal dari Bank NTT," ujar Melki.
Melki mengatakan RUPS dan RUPS LB yang digelar pada Minggu (24/5/2026) berlangsung terbuka dan diyakini berdampak positif terhadap perkembangan Bank NTT.
"Ini prinsip yang tadi saya sampaikan adalah diskusi yang sangat baik, dan kami senang karena dengan diskusi yang terbuka ini membuat, dan saya yakin perkembangan untuk Bank NTT akan jauh lebih baik lagi," terang Politisi Golkar itu.
Bahas Target Bisnis dan KUR
Dalam pertemuan itu, gubernur juga mengecek rencana bisnis dan target keuntungan Bank NTT tahun ini hingga beberapa tahun ke depan yang dipaparkan direksi dan komisaris.
"Kami mengecek rencana bisnisnya, rencana juga pencapaian keuntungan di tahun ini, dan juga tahun-tahun ke depan, dipaparkan dengan terbuka juga oleh Direksi dan Komisaris Bank NTT," katanya.
Melki menegaskan seluruh pemerintah daerah berkomitmen membesarkan Bank NTT agar kontribusinya terhadap pelayanan masyarakat makin besar.
"Dan sekali lagi, kami semua kepada daerah, sudah berkomitmen juga untuk bersama-sama membesarkan Bank NTT, dan semakin berkontribusi untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat di berbagai bidang," katanya.
Pada kesempatan itu, Melki juga mengumumkan ketersediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 350 miliar di Bank NTT. Dari jumlah itu, Rp 50 miliar dialokasikan khusus untuk Pekerja Migran Indonesia asal NTT, sedangkan Rp 300 miliar untuk KUR produktif ultra mikro, mikro, dan kecil menengah.
"Jadi Rp350 miliar terbagi Rp50 miliar untuk PMI, dan Rp300 miliar untuk KUR produktif. Dan KUR kalau habis, dipasti akan diusulkan lagi untuk kita pakai," tambahnya.
Melki juga menyambut Direktur Kepatuhan Bank NTT yang baru, Revi Silawati, yang sebelumnya berkarier selama 30 tahun di Bank Jatim.
"Nah, Ibu Revi Direktur Kepatuhan yang baru dari Bank Jatim, beliau punya reputasi 30 tahun di perbankan di Bank Jatim, dan saya pikir bukan pemain baru karena sudah lama di perbankan, beliau punya reputasi yang baik selama 30 tahun," katanya.
Ia menambahkan para pemegang saham juga mengusulkan Flori Rita Wuisan sebagai salah satu komisaris di Bank NTT.
"Kami sudah sepakat bersama-sama untuk mengajukan Ibu Rita Wuisan sebagai calon Komisaris Independen," tambahnya.
TTU Tak Ikut Tambah Modal
Sementara itu, Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan Pemkab TTU tidak ikut menambah penyertaan modal dalam RUPS dan RUPS LB Bank NTT.
"Kita tidak ikut," kata Falen.
Menurut dia, Kabupaten TTU tidak perlu melakukan penyertaan modal tambahan karena kini berada di urutan keempat sebagai pemegang saham Bank NTT.
"TTU tidak perlu lagi (penyertaan modal), karena kita sudah urutan keempat. Kita TTU penyertaan modal di Bank NTT sebanyak Rp 115 miliar," pungkasnya.
(dpw/dpw)










































