Kenaikan harga bahan pokok mulai terasa di Denpasar menjelang Idul Adha. Harga beras premium, cabai, bawang merah, hingga daging ayam mengalami kenaikan.
Meski demikian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar memastikan stok pangan masih aman dan belum memicu gejolak di masyarakat.
Disperindag mencatat harga beras premium, seperti Beras Putri Sejati dan Beras Ratu, naik hingga menyentuh Rp 16 ribu dari harga eceran tertinggi (HET) Rp 14.900. Kondisi tersebut diantisipasi dengan ketersediaan beras medium (SPHP) dari Badan Urusan Logistik (Bulog).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat sudah tau, oh ini mau hari raya bakalan naik. Sampai saat ini saya ngerasa masyarakat nggak ada ribet, mereka sudah siap dengan kenaikan," tutur Kepala Bidang Metrologi dan Tertib Niaga Disperindag Kota Denpasar I Bagus Aditia Wardhana ketika diwawancarai tim detikBali di Kantor Disperindag Kota Denpasar, Jumat (22/5/2026).
"Kami sudah koordinasi dengan Bulog, stoknya aman sampai sembilan bulan ke depan untuk beras medium. Kalau yang premium, ya kembali ke masyarakat. Syukurnya nggak ada gejolak. Karena kita punya pasar rakyat, jadi masih ada tawar menawar. Misal bawang, cabai harganya tinggi mereka beli sedikit masih bisa," imbuh Wardhana.
Menurutnya, masyarakat kini cenderung berbelanja sesuai kebutuhan dan kemampuan. Karena itu, hingga saat ini belum ada keluhan meski harga sejumlah bahan pokok naik.
Selain beras, kenaikan harga juga terjadi pada cabai, bawang, hingga daging ayam. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2K), kenaikan dipicu stok yang terbatas di tengah meningkatnya permintaan.
"Beberapa komoditas seperti cabai dan bawang merah sangat berpengaruh dengan faktor cuaca. Belakangan ini kan turun hujan, sehingga komoditas cepat basah dan membusuk," jelas Kontributor SP2K Puspa Sari Dewi ketika ditanyai tim detikBali.
Data terakhir pada Jumat (22/5/2026) menunjukkan harga cabai rawit merah naik hingga Rp 73 ribu dari HET Rp 57 ribu. Sementara itu, harga bawang merah juga naik dari hari sebelumnya, yakni Rp 35 ribu menjadi Rp 40 ribu, meski belum melebihi HET.
Dewi menjelaskan, banyaknya varian cabai dan bawang masih menjadi alternatif bagi konsumen sehingga tidak ditemukan kelangkaan stok.
"Paling mahal Cabai Bali Rp 85 ribu-Rp 90 ribu per kg, ada Cabai Baskara lebih kurah Rp 75 ribu-Rp 80 ribu per kg. Ada pula Cabai Strawberry itu lebih mahal lagi sering terlihat di Pasar Badung. Kalau bawang setau saya ada Bawang Bali Karet dan Bawang Bima," terang Dewi.
Di sisi lain, harga daging ayam juga mengalami kenaikan setelah distribusi subsidi untuk tiap pasar terbatas.
"Kalau daging ayam, kenaikan tidak signifikan masih di bawah 5 persen. Stok dikit permintaan meningkat, kemungkinan karena kebanyakan pasokan untuk MBG (Makan Bergizi Gratis)," kata Dewi.
Pemkot Denpasar menyalurkan subsidi melalui Perumda Pasar Sewakadarma untuk mengantisipasi lonjakan harga. Kepala Unit Bina Usaha Sewakajaya Perumda Pasar Sewakadarma Ni Made Sartini mengatakan operasi pasar jelang Idul Adha tetap berjalan sesuai jadwal normal, yakni setiap Senin, Kamis, dan Jumat.
"Kami melakukan operasi pasar sesuai dengan jadwal yang kami agendakan, dan kami pantau harga dari survey di Pasar Badung dan Kreneng. Tidak ada penambahan jadwal karena sudah dibuat (jadwal)," ucap Sartini.
Berdasarkan laporan subsidi Perumda Pasar Sewakadarma pada Kamis (21/5/2026), Pasar Badung memperoleh subsidi sebesar Rp 782 ribu untuk komoditas cabai rawit dan daging ayam. Sementara itu, Pasar Kreneng mendapat subsidi sebesar Rp 182 ribu untuk komoditas yang sama.
(dpw/dpw)










































