detikBali

Generasi Muda Enggan Melaut, Jumlah Nelayan Klungkung Kian Menyusut

Terpopuler Koleksi Pilihan

Generasi Muda Enggan Melaut, Jumlah Nelayan Klungkung Kian Menyusut


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Deretan perahu nelayan yang jumlahnya semakin berkurang di Pantai Kusamba, Desa Kusamba, Dawan, Klungkung, Bali, Rabu (29/4/2026).
Foto: Deretan perahu nelayan yang jumlahnya semakin berkurang di pantai Kusamba, Desa Kusamba, Dawan, Klungkung, Bali, Rabu (29/4/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Jumlah nelayan di pesisir Pantai Kusamba, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, semakin berkurang. Generasi muda pesisir dinilai lebih memilih pekerjaan lain. Pasang surut pendapatan karena kondisi cuaca dan besarnya resiko pekerjaan dinilai menjadi alasan utama mereka.

I Nengah Arusta (53), nelayan Desa Kusamba, mengungkapkan tidak ada lagi anak muda yang mau melaut di tempatnya. Kata dia, pemuda masa kini lebih banyak memilih pekerjaan di bidang pariwisata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak saya tidak ada yang melaut. Anak-anak nelayan lainnya juga begitu. Lebih banyak kerja di hotel-hotel, dan di pariwisata," kata Arusta kepada detikBali, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, hal itu sangat wajar. Jangankan generasi muda, sebagian dari mereka juga sudah mulai jarang aktif melaut. Hal itu disebabkan oleh semakin tidak menentunya kondisi cuaca. Sedang kalau memaksa diri melawan cuaca, tidak hanya resiko kapal karam yang didapatkan, namun juga tidak adanya ikan.

ADVERTISEMENT

"Sekarang kebanyakan tidak keluar. Hari ini ada empat perahu yang keluar. Pulang-pulang kosong," jelasnya.

Arusta yang merupakan anggota Kelompok Nelayan Putra Taman Kusamba menjelaskan jalur pelayarannya. Biasanya dia berlayar ke selat Lombok dan Badung. Ke Selat Lombok ia menghabiskan 15 sampai 20 liter pertalite, sedangkan selat Badung bisa sampai 8 liter.

"Tergantung besar ombaknya. Kalau besar gelombang bisa lebih," tutur Arusta.

Tingkat kesulitan mencari ikan saat ini menyebabkan semakin berkurangnya jumlah nelayan. Arusta menuturkan dulu jumlah nelayan bisa ratusan. Sementara sekarang sudah bisa dihitung dengan jari di tangan.

"Yang aktif ya, sangat sedikit sekarang. Itu dah. Bisa kita hitung. Kalau dulu, beh, banyak sekali," paparnya.

Di samping Arusta, I Komang Donald (41) mengaku merupakan nelayan termuda. "Tidak ada regenerasi. Saya sudah generasi terakhir. Di bawah saya tidak ada. Anak-anak juga tidak saya ajak melaut. Hasil tidak menentu. Biaya besar, risiko tinggi. Pendapatan pasang surut. Susah jadi nelayan," keluh Donald.

Di sisi lain, ia juga mengkritisi bantuan pemerintah yang dirasa karena keterbatasan jumlah malah jadi masalah. Menurut Donald, para nelayan hanya diberikan satu mesin untuk satu kelompok.

"Jadi rebutan. Seharusnya satu kelompok dikasi dengan jumlah berapa nelayan dalam kelompok tersebut," terangnya.

Nelayan Sudah Hilang di Satu Desa

Di Desa Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, nelayan bahkan sudah tidak ada sama sekali. Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Desa Kampung Kusamba Samsul Bahri.

"Sekarang sudah tidak ada lagi nelayan di desa ini. Bisa dikatakan begitu. Kalau dulu banyak. Saya kurang tahu jelasnya, tapi kemungkinan sudah terus berkurang sejak tahun 2000-an," papar Samsul.



(hsa/hsa)









Hide Ads
LIVE