Bank BPD Bali berhasil mencapai modal inti sebesar Rp 5,7 triliun pada triwulan I 2026. Angka tersebut telah mendekati ketentuan minimal untuk menjadi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 yaitu di atas Rp 6 triliun.
Capaian positif tersebut seiring dengan rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghapuskan KBMI 1. Dengan demikian, Bank BPD Bali diharapkan dapat naik kelas menjadi bank dengan kategori KBMI 2 sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) Tahun 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menjelaskan pencapaian modal inti tersebut ditopang oleh setoran modal dari pemegang saham yang mencapai Rp 746 miliar. Termasuk juga dampak dari kinerja keuangan bank yang positif pada triwulan I 2026.
Sudharma menuturkan pencapaian kinerja positif Bank BPD Bali ini didorong oleh ekspansi kredit yang agresif dan berfokus pada sektor produktif. Kemudian, peningkatan DPK dengan CASA yang terkendali serta inovasi produk dan layanan digital.
"Bank BPD Bali secara konsisten menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dalam menjaga kepercayaan publik," ujar Sudharma dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).
"Ke depannya, Bank BPD Bali akan terus melakukan upaya peningkatan fundamental bisnis, sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis untuk mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan, serta memperkuat keunggulan kompetitif bank," imbuhnya.
Sudharma menerangkan kinerja positif sampai Triwulan I 2026 tercermin dari pertumbuhan aset yang mencapai Rp 42,71 triliun atau tumbuh 8,23 persen secara tahunan (yoy) per Maret 2026. Dalam menjalankan fungsi intermediasi, Bank BPD Bali mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 25,29 triliun atau tumbuh 8,66 persen secara tahunan (yoy).
Kemudian, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 35,46 triliun atau meningkat 5,36 persen secara tahunan (yoy). Adapun penyaluran kredit didominasi oleh kredit UMKM mencapai 52,09 persen dari total portofolio kredit.
"Pencapaian ini tidak terlepas dari komitmen Bank BPD Bali dalam mendukung UMKM, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah terealisasi mencapai Rp 550,9 miliar dan Kredit Program Perumahan (KPP) mencapai Rp 78,41 miliar per Maret 2026," ujar Sudharma.
Selain penyaluran KUR, Bank BPD Bali juga mencatat realisasi debitur graduasi dari KUR melalui produk kredit KUSUMA (Kredit Usaha untuk Sejahtera, Unggul & Maju) dengan volume sebesar Rp 1,27 triliun. Walhasil, capaian tersebut menunjukkan program KUR semakin efektif mendorong pelaku UMKM untuk berkembang dan meningkatkan skala usahanya.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) gross terjaga pada level rendah yakni 0,84 persen disertai Coverage Ratio yang kuat sebesar 454,52 persen. Kinerja tersebut, Sudharma berujar, mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta penguatan manajemen risiko yang konsisten.
"Pertumbuhan DPK ditopang oleh struktur pendanaan yang relatif efisien, tercermin dari rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai 66,13 persen. Hal ini mencerminkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap layanan Bank BPD Bali," kata Sudharma.
Di sisi lain, akselerasi layanan digital juga dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu memperluas aktivitas transaksi nasabah dan mendukung pertumbuhan pendapatan berbasis komisi. Platform digital seperti BPD Bali Mobile dengan 282.677 pengguna per Maret 2026, disebut turut berkontribusi mendorong transaksi serta peningkatan fee based income sebesar 24,18 persen secara yoy sehingga memperkuat sumber pendapatan non-bunga.
Ada pula peningkatan aktivitas transaksi yang memperkuat penghimpunan dana murah berbasis rekening dan mendukung efisiensi beban bunga bank. Efisiensi operasional juga tercermin dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang berada di angka 60,12 persen.
"Itu menunjukkan kemampuan bank dalam mengendalikan biaya operasional untuk menghasilkan pendapatan operasional," tutur Sudharma.
Dari sisi rentabilitas, BPD Bali menunjukkan kinerja yang baik dilihat dari Rasio Return on Aset (ROA) sebesar 4,31 persen dan Rasio Return on Equity (ROE) sebesar 30,03 persen dan Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 71,32 persen. Hal itu menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyalurkan kredit.
Bank BPD Bali juga melakukan inovasi layanan digital melalui penguatan aspek Teknologi Informasi (TI), pengelolaan keamanan siber, serta meningkatkan data privacy sesuai ketentuan yang berlaku. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh inovasi layanan memiliki tingkat keamanan yang baik.
Misalkan pengembangan BPD Bali Mobile, QRIS Tuntas Bank BPD Bali, QRIS Mobile NFC, pengembangan KKI online payment, termasuk juga QRIS Crossborder ke berbagai negara (Thailand, Malaysia, Singapura dan Jepang). Saat ini, BPD Bali juga dalam proses persiapan implementasi QRIS Crossborder Indonesia-Korea Selatan.
"Konsistensi dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan kontribusi dalam mendukung peningkatan ekonomi daerah oleh Bank BPD Bali membuahkan pengakuan beberapa penghargaan di tingkat nasional sampai dengan Triwulan I tahun 2026," pungkas Sudharma.
(iws/iws)