Pertemuan tersebut menyepakati rencana untuk beraudiensi dengan Penjabat (Pj) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya untuk menanyakan kepastian dari rencana pembangunan jalan tol itu.
"Sekarang sudah ada sikap. Komitmennya menanyakan kepastian dari pembangunan jalan tol itu," jelas Perbekel Desa Lalanglinggah I Nyoman Arnawa.
Ia menjelaskan, hal tersebut akan dilakukan melalui audiensi dengan Pj Gubernur Bali. Ia berharap rencana ini bisa difasilitasi nantinya. "Beliaunya (Pj Gubernur Bali) kami harapkan bisa memfasilitasi," tegasnya.
Di samping itu, sambungnya, yang paling utama dari audiensi tersebut adalah untuk mencari informasi pasti mengenai kelangsungan dari pelaksanaan proyek pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi. "Sekaligus untuk menjawab keresahan (masyarakat). Itu yang utama," tukasnya.
Arnawa berharap, hasil pertemuan yang turut melibatkan sejumlah perbekel dari Kabupaten Jembrana dan Badung ini bisa difasilitasi secepatnya.
"Kami baru akan bersurat. Semoga cepat direspons. Kalau bisa secepatnya. Oktober 2023 ini sudah ada jawaban," ujarnya.
Sepekan sebelumnya, para perbekel ini menggelar pertemuan di Desa Antosari untuk menyikapi rencana pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi yang tidak kunjung ada kepastian.
Di sisi lain, mereka juga kebingungan menjawab pertanyaan dari masyarakat yang terus berdatangan mengenai kelangsungan rencana proyek tersebut. Khususnya para pemilik lahan yang terdampak dari pembangunan jalan tol.
Sementara itu, mereka selaku kepala desa tidak punya kapasitas untuk memberikan informasi pasti terkait dengan kelangsungan proyek yang dicetuskan Gubernur Bali sebelumnya I Wayan Koster tersebut. Karena proyek ini ditangani langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
(dpw/gsp)