Gubernur Bali Wayan Koster percaya diri memasang target nol emisi di Pulau Dewata pada 2040. Target itu maju lima tahun dari proyeksi awal pada 2045. Bahkan, target tersebut jauh lebih cepat dari target nasional pada 2060.
Meski begitu, Koster mengakui ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai target tersebut tercapai. Salah satunya dengan menekan emisi dari kendaraan berbahan bakar fosil dengan meningkatkan penggunaan kendaraan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tambah dikencengin lagi penggunaan kendaraan listrik, maka 90 persen emisi dari emisinya batubara, dari minyak, itu akan lebih cepat berkurang. Nggak perlu tahun 2045, menurut saya, mungkin 2040 sudah bisa," ujar Koster saat membuka Pekan Iklim Bali di Sanur, Denpasar, Selasa (13/10/2026).
Koster mengatakan emisi batubara di Bali juga disebabkan oleh pembangkit listrik yang masih beroperasi. Sehingga, dia menaruh harapan pada pembangkit listrik bertenaga gas yang akan dibangun.
Selain itu, Koster berencana menggalakkan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dan terapung agar bisa menggantikan sumber energi sebelumnya. Termasuk dengan mensyaratkan pembangunan gedung baru yang mewajibkan pemasangan PLTS Atap.
Dalam proyeksinya, jika pembangkit listrik bertenaga gas yang akan dibangun di Bali rampung pada 2031, ditambah dengan kuota PLTS sebesar 1.000 megawatt dari pemerintah pusat, maka kebutuhan energi Bali tercukupi dengan sumber energi yang bersih.
"Mulai akhir tahun ini, saya akan mengencangkan betul gerakan penggunaan PLTS, kemudian kendaraan listrik, dan juga sumber energi yang bersih lainnya," imbuh politikus PDIP itu.
Koster optimistis jika tujuan tersebut tercapai, maka yang perlu didorong adalah konversi kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik bagi masyarakat. Selain itu, dia berharap agar upaya membentuk enam kawasan rendah emisi di Bali dapat berjalan untuk mendongkrak citra Pulau Dewata di mata global.