Gubernur Bali, Wayan Koster, meminta Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, memprioritaskan penanganan air bersih di Kecamatan Kuta Selatan. Sudah sepekan warga di kecamatan itu tidak mendapat aliran air bersih.
"Itu berita buruk. Warga antre air di wilayah PAD (pendapatan asli daerah) yang tinggi. Bapak bupati harus keluarkan jurus," kata Koster saat pidato dalam acara perjanjian kerja sama implementasi wilayah rendah emisi di Pantai Purnama, Gianyar, Sabtu (10/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koster mengatakan situasi itu harus segera ditangani. Jangan sampai Pemkab Badung yang mendapatkan PAD Rp 6 triliun, tetapi warganya justru harus antre karena kekurangan pasokan air bersih.
Koster meminta Adi Arnawa segera memetakan wilayah yang masih mengalami krisis air di Badung selatan. Jika sudah dipetakan, pendistribusian harus segera dilakukan sebelum warga memutuskan mengantre membeli air bersih.
"Jangan sampai jadi guyonan, PAD-nya tinggi, tetapi masyarakatnya antre air bersih di Kuta Selatan. Harus prioritas itu. Di mana kekurangan air, kasih air duluan," pinta Koster.
"Jangan sampai jadi berita viral, nanti yang ditelepon dari menteri di Jakarta gubernurnya," imbuh Koster.
Adi Arnawa mengatakan krisis air di Kuta Selatan adalah cerita lama. Jika melihat kondisi saat ini, krisis air bersih terjadi karena jumlah kandungan air tanah tidak sebanding dengan jumlah populasi di Badung selatan.
"Kami tidak pungkiri memang persoalan air di Badung selatan agak kritis. Sejak saya kecil, sudah keterbatasan air," terang pria kelahiran Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, itu.
Pemkab Badung, tutur Adi Arnawa, mendorong pemanfaatan air limbah menjadi air bersih dengan metode membrane bioreactor (MBR). Meski tidak banyak, volume air yang dihasilkan cukup menopang kebutuhan air bagi warga di Badung selatan.
Selain melalui MBR, cara kedua adalah memanfaatkan air laut yang dikonversi menjadi air tawar. Adi Arnawa meminta Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mangutama agar segera membuat teknologinya.
"Teknologinya ada. Di Kabupaten Klungkung malah sudah berjalan. Nanti (konversi air laut) itu akan bersifat komersial karena agak mahal teknologinya, tetapi warga dapat membeli airnya lebih murah," terang Adi Arnawa.
Menurut Adi Arnawa, teknologi konversi air laut itu paling cocok diterapkan di kawasan Desa Pecatu. Saat ini, upaya yang dilakukan untuk mendistribusikan air bersih di wilayah itu masih dengan cara menambah pipa untuk mengalirkan air dari tanah ke perbukitan.
"Tentu akan berdampak positif. Akan ada banyak investor yang berinvestasi di Pecatu. Kalau sudah begitu, kebutuhan air bersih akan makin banyak," ujar Adi Arnawa.
(hsa/hsa)