detikBali
Internasional

Trump Ngamuk Lagi karena Gagal Raih Nobel Perdamaian

Terpopuler Koleksi Pilihan
Internasional

Trump Ngamuk Lagi karena Gagal Raih Nobel Perdamaian


Novi Christiastuti - detikBali

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali ke Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, pada 5 Oktober 2026, setelah menghadiri sebuah rapat umum di Grand Island, Nebraska. REUTERS/Nathan Howard
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: REUTERS/Nathan Howard)
Denpasar -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali gagal meraih Nobel Perdamaian. Tak terima penghargaan bergengsi itu jatuh ke tangan hakim asal Afrika Selatan (Afsel), Navi Pillay, Trump meluapkan kemarahannya dan menyebut Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitasnya.

Seperti dilansir detikNews, Sabtu (10/10/2026), Trump melontarkan kekesalannya saat berkampanye untuk Partai Republik di Syracuse, New York, pada Jumat (9/10). Dia bahkan mengaku tidak mengenal Pillay, sosok yang dipilih sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026.

"Saya tidak pernah mendengar tentang orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya," kata Trump di hadapan para pendukungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump menilai penghargaan Nobel Perdamaian semestinya diberikan kepada dirinya sebagai Presiden AS. Dia juga mengecam keputusan Komite Nobel yang memilih Pillay dan menyebutnya sebagai keputusan memalukan yang mencoreng nama Norwegia, negara tempat markas utama Komite Nobel berada.

ADVERTISEMENT

"Ini adalah noda yang tak terhapuskan bagi negara Norwegia dan orang-orang yang mengambil keputusan yang begitu tercela dan memalukan itu," sebutnya.

Sepanjang masa kepresidenannya, Trump berulang kali mengungkapkan kekecewaan karena gagal mendapatkan penghargaan tersebut. Kali ini, dia kembali mengklaim telah membantu menyelesaikan sejumlah konflik internasional sebagai alasan dirinya layak menerima Nobel Perdamaian.

Trump mengklaim telah mencegah perang antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel), Jepang dan Korut, serta China dan Taiwan. Namun, dia tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut.

Menurut Trump, penghargaan Nobel Perdamaian seharusnya diberikan kepada "Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden Anda".

"Penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas selamanya, akibat ulah segelintir penganut ideologi radikal yang antidemokrasi dan sejatinya merupakan musuh peradaban," kata Trump dalam pidatonya.

"Dan kita tidak akan melupakan hal ini, Norwegia," tandasnya.

Kemarahan Trump muncul hanya beberapa jam setelah Komite Nobel mengumumkan Pillay sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Hakim terkemuka asal Afsel itu dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam penegakan hukum internasional, termasuk menangani kasus kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

Ketua Komite Nobel Norwegia di Oslo, Jorgen Watne Frydnes, menyebut Pillay telah berperan "sangat penting dalam memastikan bahwa kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida diadili".

Sementara itu, dewan juri Nobel menyatakan bahwa "komitmen Navi Pillay terhadap prinsip-prinsip hukum universal dan keteguhan prinsip moralnya merupakan hal yang konsisten sepanjang kariernya yang panjang".

Pillay pernah menjadi hakim Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan memimpin pengadilan genosida Rwanda. Dia kini menjadi hakim di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam perkara yang menuduh Myanmar melakukan genosida.

Tahun lalu, Pillay memimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen (COI) pada PBB yang menyimpulkan bahwa genosida sedang terjadi di Jalur Gaza.

Dalam penyelidikan tersebut, Pillay memimpin komisi khusus PBB yang menyelidiki dugaan kejahatan di wilayah Palestina itu hingga menyimpulkan telah terjadi genosida.

Pillay sempat melontarkan kelakar mengenai Trump setelah diumumkan sebagai peraih Nobel Perdamaian 2026. Dalam pidatonya, dia mengatakan mungkin akan membagikan penghargaan tersebut dengan Presiden AS itu.

"Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih meriah lagi, saya mungkin akan berbagi penghargaan ini dengan Trump," kata Pillay dalam sebuah video yang diunggah Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, ke media sosial X.

Video tersebut memperlihatkan Pillay disambut tepuk tangan meriah, termasuk standing ovation, di Nuremberg setelah pengumuman penghargaan tersebut.

Tahun lalu, Nobel Perdamaian diberikan kepada tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Machado kemudian menyerahkan medali emas Nobel miliknya kepada Trump.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads