detikBali

AI Makin Canggih, Penulis Diingatkan Menulis dengan 'Rasa'

Terpopuler Koleksi Pilihan

AI Makin Canggih, Penulis Diingatkan Menulis dengan 'Rasa'


Sui Suadnyana, Fabiola Dianira - detikBali

Akademisi, penulis, sekaligus praktisi spiritualitas Nusantara, I Wayan Mustika, seusai acara Konferensi pers Ubud Writers & Readers Festival 2026 di Sanur, Denpasar, Rabu (7/10/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Foto: Akademisi, penulis, sekaligus praktisi spiritualitas Nusantara, I Wayan Mustika, seusai acara Konferensi pers Ubud Writers & Readers Festival 2026 di Sanur, Denpasar, Rabu (7/10/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang makin pesat dinilai dapat menggeser peran penulis dan membuat tulisan kehilangan unsur orisinalitas. Namun, karya yang lahir dari pengalaman dan perasaan manusia dinilai tetap memiliki nilai tersendiri.

Akademisi, penulis, sekaligus praktisi spiritualitas Nusantara, I Wayan Mustika, menilai penggunaan AI masih berada dalam fase euforia, termasuk untuk membantu seseorang menulis.

"Ketika AI banyak membantu kita, muncul euforia kita menggunakan AI untuk membantu kita menulis. Tetapi lama-lama kita akan mengerti, ketika kita sudah menjadi seorang penulis, pembaca buku, kita akan memilih sesuatu yang orisinal," ujar Mustika saat ditemui dalam konferensi pers Ubud Writers & Readers Festival 2026 di Sanur, Denpasar, Rabu (7/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mustika tak sepenuhnya menentang penggunaan AI karena dapat membantu melancarkan ide-ide kepada penulis. Namun, menurutnya, manusia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki mesin, yakni rasa. Penulis tidak boleh terus bergantung dan harus memunculkan rasa yang menjadi ciri khas tiap penulis.

ADVERTISEMENT

"Di awal-awal boleh kita belajar mendapatkan sesuatu dari mesin misalnya AI. Tetapi, lama-lama kita harus memunculkannya dari dalam diri. Karena ada rasa yang berbeda pada saat kita membaca sesuatu yang datang dari AI yang kadang-kadang itu template sekali, template. Nggak ada gejolak rasa," jelas Mustika.

Menurut Mustika, rasa itu pula yang membuat karya yang dibuat secara langsung oleh manusia tetap memiliki nilai, seperti karya seni yang dibuat secara handmade.

"Kalau terbiasa menggunakan AI, suatu ketika nanti kita akan kehilangan pasar, tanda petik, orang yang mencintai kita apa adanya dari dalam. Karena sesuatu yang datang dari rasa akan memanggil rasa," imbuh Mustika

Mustika mengatakan rasa dalam menulis dapat muncul ketika seseorang membiarkan pikirannya mengalir, bukan hanya menyusun tulisan berdasarkan logika.

"Mengalir. Rasa itu kadang dia harus dimulai dengan sebuah kata. Kata, tulis saja. Saya sering menulis dengan rasa karena mengizinkannya mengalir," ujar Mustika.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya ruang sastra yang mempertemukan penulis dan pembaca secara langsung. Salah satunya melalui Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 di Taman Baca Sanggingan, Ubud, pada 21-25 Oktober 2026.

Festival tersebut akan menghadirkan sekitar 200 penulis dari berbagai negara. Para peserta dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari diskusi bersama penulis, peluncuran buku, workshop, literary lunch, spoken word hingga pertunjukan seni.

Mustika mengatakan ruang seperti festival sastra menjadi penting untuk mempertemukan karya dan pengalaman manusia secara langsung.

"Iya, karena di festival ini ada cipta, rasa, karsa. Nah, jadi bagaimana karsa atau penciptaan itu harus dimulai dari rasa yang dipicu oleh adanya cita, cita, kesadaran murni," tutur Mustika.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads