Fenomena udara kabur (haze) muncul di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak Selasa (29/9/2026) dan Rabu (30/9/2026). Warga sempat mengira itu adalah abu vulkanis gunung yang mengalami erupsi.
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Maria Patricia Christin Seran menegaskan itu adalah udara kabur (haze). Fenomena itu terjadi di sebagian besar wilayah di Flores.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang sejak kemarin terjadi udara kabur di wilayah Labuan Bajo bahkan di sebagian besar pulau Flores," kata Maria dikonfirmasi Rabu (30/9/2026).
Haze dapat diartikan sebagai kekaburan udara yang disebabkan oleh partikel-partikel kecil yang mengaburkan pandangan dan mengurangi kejernihan langit. Ini sering kali terjadi ketika ada akumulasi debu, asap, atau uap air di atmosfer yang menghalangi cahaya.
Ia menjelaskan penyebab munculnya fenomena haze tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan udara atas (radiosonde) BMKG Maumere, jelas Maria, teridentifikasi adanya inversi suhu pada lapisan dekat permukaan tanah (permukaan hingga sekitar 950 hPa) dan di lapisan antara 750 hPa hingga 720 hPa. Kondisi inversi ini dapat membuat atmosfer menjadi lebih stabil sehingga pencampuran udara secara vertikal berkurang.
"Akibatnya, uap air, aerosol, debu, atau partikel di dekat permukaan dapat lebih lama tertahan pada lapisan bawah atmosfer, sehingga jarak pandang dapat tampak menurun atau atmosfer terlihat seperti memiliki 'selaput'," terang Maria.
Ia mengatakan pada kondisi normal, udara hangat di dekat permukaan bumi akan bergerak naik sehingga membantu membawa debu, asap, uap air, dan partikel lainnya ke atas untuk menyebar. Namun, saat terjadi inversi suhu, kondisi justru terbalik. Udara yang ada di dekat permukaan bumi lebih dingin, sedangkan udara di lapisan atasnya lebih hangat.
"Data pengamatan tadi menunjukkan hal tersebut. Karena udara dingin cenderung lebih berat, pergerakan udara ke atas menjadi terhambat. Akibatnya, uap air dan partikel di dekat permukaan bumi terperangkap dan terakumulasi di bawah lapisan inversi tersebut sehingga jarak pandang berkurang dan udara tampak kabur seolah ada selaput," jelas Maria.
Fenomena haze yang muncul di Labuan Bajo tak berdampak terhadap aktivitas pelayaran kapal wisata maupun penerbangan di Bandara Internasional Komodo.
"Sejauh ini belum ada dampaknya terhadap penerbangan di bandara Komodo," ujar Humas Bandara Internasional Komodo, Marwa.