detikBali
Round Up

Teror 18 King Cobra di Kabupaten Lumbung Padi

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Teror 18 King Cobra di Kabupaten Lumbung Padi


Tim detikBali - detikBali

Evakuasi king kobra jantan berukuran 3,46 meter di rumah warga di Banjar Penulisan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Senin (28/9/2026). /istimewa
Foto: Evakuasi king kobra jantan berukuran 3,46 meter di rumah warga di Banjar Penulisan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Senin (28/9/2026). (istimewa)
Tabanan -

Beberapa bulan terakhir, teror ular king cobra menghantui warga Tabanan. Hanya dalam tiga bulan, Juni hingga September 2026, Yayasan Reptil Asih Tabanan telah mengevakuasi 18 ekor king cobra atau yang dikenal nama ular selan bukit di Bali itu.

Satu hal yang cukup meresahkan, sebagian besar king cobra ditangkap dari wilayah permukiman warga Kabupaten Lumbung Padi. Bahkan, di wilayah Banjar Penulisan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, dua hari lalu, seekor king cobra dengan panjang lebih dari 3 meter dievakuasi setelah sembunyi di bawah dipan di dalam kamar rumah selama dua hari.

Musim Hujan, Ular Cari Pasangan

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memasuki musim penghujan, diprediksi keberadaan ular akan meningkat. Menurut Ketua Yayasan Reptil Asih Tabanan, Ni Putu Astridayanti, selama September hingga Desember adalah periode ular mencari pasangan maupun membuat sarang.

"Memasuki September sampai Desember biasanya king cobra mulai banyak bermunculan. Mereka mencari sarang dan pasangan. Kadang sampai Januari masih ditemukan karena ada yang menetas pada bulan tersebut," ujar Astridayanti.

ADVERTISEMENT

Astridayanti mengatakan kondisi king cobra yang dievakuasi juga beragam. Dari 18 ekor yang ditemukan, beberapa di antaranya dalam kondisi siap bertelur, sementara ada juga yang ditemukan dalam kondisi luka.

Seluruh ular hasil evakuasi selanjutnya dibawa ke yayasan untuk mendapatkan penanganan dan dikonservasi. Langkah tersebut dilakukan agar ular tidak kembali membahayakan warga sekaligus menjaga keberadaan satwa tersebut di alam.

Menurut dia, musim kawin king cobra umumnya berlangsung sekitar Juli, Agustus, hingga September. Pergerakan ular pada periode tersebut membuat satwa melata ini lebih sering terlihat di sekitar permukiman warga.

Kemunculan king cobra tidak selalu berkaitan dengan keberadaan makanan di rumah warga. Ular tersebut diketahui memangsa sesama reptil, terutama ular dengan ukuran lebih kecil. Sehingga terkadang kerap masuk ke kawasan permukiman ketika mengejar mangsanya.

"Selama ini lokasi penangkapan cukup dominan di permukiman warga. Ada yang ditemukan di kamar, di bawah tempat tidur, depan rumah, hingga halaman," jelasnya.

Wilayah temuan tersebar di sejumlah kecamatan di Gumi Lumbung Beras di antaranya Tabanan, Marga, Penebel, Baturiti, Kerambitan, Selemadeg Timur, dan Selemadeg Barat.

Salah satu proses evakuasi yang cukup sulit terjadi di Banjar Sekartaji, Desa Sesandan. Ular ditemukan berada di dalam gorong-gorong air, tepat di depan rumah Sekda Tabanan, I Gede Susila.

Tim evakuasi bahkan sempat melibatkan petugas pemadam kebakaran untuk membantu mengeluarkan ular dari gorong-gorong. Bahkan evakuasi baru berhasil sekitar 5,5 jam hingga ular berhasil dikeluarkan.

Astridayanti mengimbau masyarakat tidak panik ketika menemukan ular king kobra. Warga diminta tidak mencoba menangkap, mengejar, atau mengganggu ular tersebut karena dapat memicu tindakan defensif.

Ular king kobra sepanjang 2,5 meter masuk ke rumah warga di Banjar Glagah, Desa Pasangan, Kecamatan Marga, Tabanan, Minggu (20/9/2026) malam. Dok. IstimewaUlar king kobra sepanjang 2,5 meter masuk ke rumah warga di Banjar Glagah, Desa Pasangan, Kecamatan Marga, Tabanan, Minggu (20/9/2026) malam. (Istimewa)

"Kalau melihat ular kobra jangan panik dan jangan diganggu. Segera laporkan kepada kami agar bisa dievakuasi dengan aman," pungkasnya.

Dua Hari di Bawah Dipan

Seekor ular king cobra berukuran 3,46 meter masuk ke rumah warga di Banjar Penulisan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan. Ular berjenis kelamin jantan tersebut kemudian dievakuasi oleh tim Yayasan Reptil Asih Tabanan usai dua hari berada di rumah tersebut.

Astridayanti mengatakan laporan keberadaan ular tersebut disampaikan oleh warga bernama Adnyana. Saat dievakuasi, ular sedang meringkuk di bawah dipan penghuni kamar. Bahkan, dari penuturan pemilik rumah, ular tersebut sudah berada dalam kamar selama dua hari.

"Info dari pemilik rumah katanya mendengar suara berisik di bawah dipan selama dua hari (Minggu dan Senin). Setelah dicek, ternyata ular itu sedang memangsa buruannya. Segera pemilik rumah melapor kepada kami, " jelas Astridayanti, Senin (28/9/2026).

Setelah mendapat panggilan, tim kemudian melakukan rescue di rumah warga yang lokasinya berdekatan dengan sebuah vila pada pukul 12.30 Wita.

Menurut dia, kondisi lingkungan di sekitar lokasi cukup mendukung keberadaan satwa liar. Rumah warga tersebut berada di kawasan yang masih dikelilingi kebun dengan vegetasi cukup padat.

Kondisi tersebut memungkinkan ular mencari mangsa hingga mendekati permukiman warga. Terlebih, king kobra memiliki karakter sebagai predator yang aktif memburu ular lain sebagai sumber makanannya.

"Karakter king cobra atau selan bukit memang mengejar ular yang lebih kecil untuk menjadi mangsanya," jelasnya.

Proses evakuasi ular king kobra sepanjang 3,2 meter di salah satu rumah warga di Banjar Pengreregan Kelod, Desa Lumbung, Kecamatan Selemadeg Barat, Jumat (24/7/2026). (Foto: Dok. Istimewa)Proses evakuasi ular king kobra sepanjang 3,2 meter di salah satu rumah warga di Banjar Pengreregan Kelod, Desa Lumbung, Kecamatan Selemadeg Barat, Jumat (24/7/2026). (Foto: Dok. Istimewa)

Astridayanti mengimbau masyarakat tidak mencoba menangkap atau membunuh king kobra apabila menemukan ular tersebut di sekitar rumah. Warga diminta menjaga jarak aman dan segera melaporkan keberadaan ular kepada petugas atau komunitas penyelamat satwa yang memiliki kemampuan melakukan evakuasi.

Kemunculan ular berukuran besar di sekitar permukiman, menurutnya perlu ditangani dengan hati-hati. Mengingat king cobra merupakan ular berbisa dan dapat menjadi berbahaya apabila merasa terancam.

"Jangan didekati atau dipancing. Lebih baik segera laporkan agar bisa dilakukan rescue dengan aman," pungkasnya.



(hsa/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads