Sejumlah wilayah di Bali masih mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan durasi cukup panjang. Salah satunya tercatat mencapai 123 hari dan kondisi tersebut masih berpotensi berlanjut. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang semakin meluas, BMKG mengingatkan masyarakat melakukan sejumlah langkah antisipasi.
Forecaster Stasiun Klimatologi Bali, Trayi Budi Samantu, mengatakan berdasarkan akumulasi pemantauan hingga 28 September 2026, terdapat 17 pos hujan yang mengalami HTH sangat panjang, yakni 31-60 hari tanpa hujan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, 18 pos hujan mengalami HTH ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari. Salah satu HTH terpanjang tercatat di wilayah Sumberklampok, Gerokgak, Kabupaten Buleleng.
"HTH terpanjang pos hujan Sumberklampok ini di Gerokgak, Kabupaten Buleleng masih menjadi rekor terpanjang yaitu sebanyak 123 hari tanpa hujan," ujarnya dalam Press Release Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Provinsi Bali, Senin (28/9/2026).
Di sisi lain, awal musim hujan 2026/2027 di Bali diprediksi mengalami kemunduran. Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis iklim terkini, awal musim hujan diprediksi mulai terjadi pada November 2026 di 3 Zona Musim (ZOM) atau 15 persen wilayah Bali.
Sementara itu, 17 ZOM lainnya atau 85 persen wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau sejumlah pihak melakukan langkah antisipasi di berbagai sektor. Pada sektor pangan, masyarakat disarankan menyesuaikan jadwal tanam.
"Maayarakat dapat menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam yang lebih pendek serta mengendalikan organisme pengganggu tanaman atau OPT," imbaunya.
Kemudian, untuk mengantisipasi kekeringan, masyarakat diimbau memanfaatkan air hujan dan meningkatkan kapasitas tampungan air.
"Memanfaatkan air hujan serta menambah kapasitas tampung pada skala rumah tangga, identifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan," lanjutnya.
Terakhir, mengenai kebencanaan, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Tetap waspada terhadap kekeringan dan karhutla terutama pada bulan September hingga Oktober akibat masih mundurnya awal musim hujan," imbuhnya.