detikBali

Wamenhaj: Stop Menjadikan Agama Sekadar Komoditas

Terpopuler Koleksi Pilihan

Wamenhaj: Stop Menjadikan Agama Sekadar Komoditas


Fabiola Dianira - detikBali

Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam acara Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus di Hotel Four Point by Sheraton, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Kamis (24/9/202). (Fabiola Dianira/detikBali)
Foto: Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam acara Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus di Hotel Four Point by Sheraton, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Kamis (24/9/202). (Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pengembangan ekonomi Islam kini mengalami pergeseran. Dari yang tadinya ideologis dan emosional, kini lebih mengarah pada rasionalitas.

Mantan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu menjelaskan, pada awal pengembangan ekonomi Islam terdapat semangat ideologis dan emosional. Hal itu membuat masyarakat berbondong-bondong menabung di bank syariah. Namun, nilai tersebut mulai mengalami pergeseran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi seiring dengan waktu, yang muncul bukan lagi emosionalitas, bukan lagi ideologis. Yang muncul adalah rasionalitas, membandingkan mana yang terbaik pelayanannya, benefitnya, dan sebagainya, antara bank syariah dengan bank konvensional," ujarnya dalam acara Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus di Hotel Four Point by Sheraton, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Kamis (24/9/202). (Fabiola Dianira/detikBali)

Ia mengatakan pergeseran tersebut membuat persaingan dalam ekonomi syariah semakin terbuka. Menurutnya, masyarakat tidak lagi memilih layanan semata-mata karena alasan emosional atau ideologis, tetapi juga mempertimbangkan pelayanan dan manfaat yang diberikan.

ADVERTISEMENT

"Yang dikompetisikan pelayanan, yang dikompetisikan benefit, yang dikompetisikan nilai. Nah, dalam ekonomi syariah, dalam Masyarakat Ekonomi Syariah, termasuk di haji dan umrah, itu dia belum bicara pada tataran nilai. Dia berhenti jadi komoditas, dia berhenti jadi produk," tuturnya.

Mantan Staf Khusus Menteri Pertahanan pada 2019 itu mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi. Menurutnya, agama dan praktik ritual tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai komoditas.

"Makanya kan saya berulang kali menyebutkan: berhenti, stop menjadikan agama atau praktik ritual agama itu sekadar menjadi komoditas," tegasnya.

Ia membeberkan hal tersebut perlu diperbaiki dengan membangun cara pandang dan tradisi baru dalam pengembangan ekonomi syariah, termasuk di sektor haji dan umrah.

"Itu yang sedang kami ingin koreksi, ingin kami dekonstruksi. Kita robohkan tradisi lama, kita bangun tradisi baru. Kita robohkan laku lama, kita bangun laku baru," imbuhnya.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads