Pelestarian kain prada Bali tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan teknik produksi tradisional, tetapi juga dengan mendorong para perajinnya beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Misi ini yang sedang dijalankan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program bertajuk "Pemberdayaan Perajin Kain Prada Bali melalui Transformasi Digital Manajemen Produksi dan Pemasaran untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi Budaya" tersebut dilaksanakan bersama Agung Prada Bali, UMKM perajin kain prada yang berlokasi di Denpasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim pengabdian terdiri dari Theresia Hendrawati sebagai ketua, bersama anggota Christina Purnama Yanti dan Ni Kade Ayu Nirwana. Program ini berangkat dari kondisi perajin yang memiliki keterampilan tradisional dan pengalaman usaha lebih dari 40 tahun, tetapi masih menghadapi sejumlah kendala dalam pengelolaan produksi, keuangan, branding, dan pemasaran digital.
Teknologi Digital untuk Memperkuat Pengelolaan Usaha
Ketua tim pengabdian, Theresia Hendrawati mengatakan transformasi digital dalam program ini dirancang untuk membantu perajin tanpa menghilangkan karakter tradisional kain prada Bali.
"Teknologi kami tempatkan sebagai alat bantu bagi perajin. Nilai utama kain prada tetap berada pada keterampilan dan budaya yang diwariskan, sedangkan teknologi membantu dari sisi pencatatan, pengelolaan produksi, branding, dan pemasaran," ujar Theresia dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Pada aspek manajemen produksi dan keuangan, Theresia menuturkan tim menerapkan sistem sederhana berbasis Microsoft Excel. Sistem tersebut digunakan untuk membantu mitra mencatat transaksi keuangan, bahan baku, persediaan, hasil produksi, serta perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).
Menurutnya pemilihan sistem sederhana dilakukan agar teknologi mudah dipahami dan dapat digunakan secara mandiri oleh mitra. Sistem tersebut juga tidak membutuhkan biaya berlangganan sehingga lebih memungkinkan untuk digunakan dalam jangka panjang.
Selain digitalisasi pencatatan, tim menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Produksi Kain Prada Bali. SOP tersebut menjadi pedoman tertulis bagi perajin mulai dari persiapan bahan dan motif, proses pengerjaan, aplikasi prada, pengeringan, hingga tahap finishing dan pemeriksaan produk.
Tim INSTIKI saat memberikan pendampingan kepada perajin kain prad Bali di Denpasar Foto: Dok INSTIKI |
Dari Logo hingga Konten Digital
Transformasi juga dilakukan pada sisi pemasaran. Tim INSTIKI membantu Agung Prada Bali membangun logo dan identitas visual yang dapat digunakan secara konsisten pada berbagai media promosi. Selain itu, dilakukan pengambilan foto dan video produk untuk menghasilkan aset konten digital. Materi tersebut kemudian dapat digunakan untuk media sosial maupun katalog digital.
Anggota tim pengabdian, Christina Purnama Yanti menjelaskan penguatan visual menjadi bagian penting dalam memperkenalkan produk kain prada kepada konsumen yang lebih luas.
"Kain prada memiliki kekuatan visual yang sangat khas. Karena itu, kami membantu mitra mendokumentasikan produk dengan lebih baik agar motif, detail prada, dan karakter produknya dapat terlihat secara optimal ketika dipasarkan melalui media digital," jelas Christina.
Tim kemudian membantu membangun dan mengoptimalkan akun Instagram Agung Prada Bali. Mitra diberikan pelatihan mengenai pengelolaan profil, pengunggahan foto dan video, penyampaian informasi produk, serta pemanfaatan konten untuk pemasaran.
e-Catalog Jadi Etalase Digital
Salah satu produk teknologi yang diterapkan dalam program ini adalah e-catalog berbasis website. E-catalog dikembangkan untuk menjadi etalase digital yang menampilkan produk kain prada Bali lengkap dengan foto, nama produk, motif, ukuran, dan harga. Dengan adanya katalog digital, calon konsumen dapat melihat informasi produk tanpa harus datang langsung ke lokasi usaha.
"Mitra juga mendapatkan pelatihan penggunaan e-catalog agar tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi mampu memanfaatkan dan mengelola media digital tersebut dalam kegiatan usaha," ungkap dia.
Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada menghasilkan perangkat digital. Tim juga melakukan transfer pengetahuan melalui pelatihan dan pendampingan agar mitra mampu mengoperasikan teknologi secara mandiri.
Luaran program yang telah dihasilkan meliputi sistem manajemen produksi, keuangan dan HPP berbasis Excel, SOP Produksi Kain Prada Bali, logo dan identitas visual, foto dan video produk, Instagram mitra, e-catalog berbasis website, serta integrasi WhatsApp dan Instagram.
Tradisi dan Teknologi Berjalan Bersama
Tim pengabdian melihat digitalisasi bukan sebagai pengganti proses tradisional, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat keberlanjutan usaha berbasis budaya. Kain prada Bali yang selama ini dibuat melalui keterampilan tradisional memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas ketika didukung oleh dokumentasi produk yang baik, identitas visual yang konsisten, serta saluran pemasaran digital.
Program ini diharapkan dapat membantu Agung Prada Bali membangun tata kelola usaha yang lebih terstruktur sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas, tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi kekuatan utama kain prada Bali.
