Grup musik legendaris KLa Project dipastikan menjadi salah satu bintang tamu utama dalam Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Kehadiran band yang populer lewat lagu-lagu 'Yogyakarta' dan 'Tak Bisa ke Lain Hati' itu menjadi bagian dari konsep baru Bulfest yang mengusung tema vintage atau bernuansa tempo dulu.
Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, mengatakan konsep tersebut sengaja dipilih untuk mengajak masyarakat bernostalgia dengan kejayaan Buleleng pada masa lampau. Seluruh elemen festival, mulai dari dekorasi, musik, hingga kuliner, akan disesuaikan dengan tema tersebut.
"Konsep Bulfest sekarang adalah vintage, kembali ke zaman dulu. Jadi makanya pemusik-musiknya juga, nanti kan tanggal 18 itu ada KLa Project nanti, ya. Jadi, ya musik-musik yang tempo dulu lah, ya. Dan juga warna pun juga warna-warna vintage gitu loh. Warna-warna jadul, zaman dulu. Konsepnya juga demikian," kata Sutjidra, Jumat (7/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutjidra menjelaskan pemilihan KLa Project bukan sekadar menghadirkan hiburan. Band yang telah berkarya sejak era 1980-an itu dinilai mampu memperkuat nuansa nostalgia yang ingin dihadirkan dalam Bulfest tahun ini.
Adapun Buleleng Festival (Bulfest) 2026 akan digelar pada 18-23 Agustus 2026. Menurutnya, berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, Bulfest 2026 tidak akan dipenuhi musik dengan irama keras. Sebaliknya, panitia mengkurasi penampilan para musisi agar menghadirkan suasana yang lebih santai dan nyaman bagi pengunjung.
"Musiknya nanti soft semua. Ada keroncong juga. Musisi-musisi dari Bali juga sudah diberikan konsep, jadi tidak ada lagi musik-musik keras. Buleleng yang tenang," ujar Sutjidra.
Tak hanya musik, konsep vintage juga diterapkan pada tenant kuliner. Pengunjung nantinya dapat menemukan beragam jajanan tradisional, seperti laklak, jukut buangit hingga konsep dagang patokan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Buleleng pada era 1980-an.
Menurut Sutjidra, konsep tersebut merupakan bagian dari upaya Pemkab Buleleng menghidupkan kembali sejarah daerah yang pernah menjadi pusat perdagangan sekaligus ibu kota Sunda Kecil.
"Melalui Bulfest ini kami ingin generasi muda tahu bahwa Buleleng pernah menjadi pusat perdagangan dan punya sejarah yang besar. Itu yang ingin kami tampilkan kembali lewat konsep festival tahun ini," terang Sutjidra.
(iws/iws)