Konflik di Timur Tengah kian meluas. Setelah perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel memanaskan kawasan, kelompok Houthi kini menyerang wilayah Arab Saudi.
Serangan itu melukai 11 orang dan terjadi hanya beberapa jam setelah muncul laporan intelijen soal rencana serangan terhadap Saudi.
Dirangkum detikcom, Jumat (7/8/2026), serangan tersebut terjadi setelah laporan intelijen mengungkap dugaan koordinasi Iran dan kelompok-kelompok proksinya untuk menyerang Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Kamis (6/8), Al Arabiya melaporkan informasi dari sumber senior Arab Saudi yang menyebut Iran dan kelompok proksinya tengah mempersiapkan serangan ke Saudi.
Sumber Saudi tersebut mengatakan "sejumlah laporan intelijen yang kredibel" menunjukkan adanya koordinasi antara kelompok Houthi yang bermarkas di Yaman, milisi-milisi Irak yang didukung Iran, dan IRGC dalam mempersiapkan serangan terhadap Saudi. Laporan itu dinilai mengkhawatirkan karena muncul saat Saudi berupaya mendorong perdamaian di Timur Tengah melalui negosiasi yang bergerak ke arah positif.
Saudi juga dilaporkan tidak akan ragu mengambil segala langkah untuk merespons setiap bentuk agresi. Informasi itu muncul tidak lama setelah sumber-sumber Irak mengatakan mereka memiliki informasi yang mengindikasikan adanya niat faksi-faksi bersenjata untuk melancarkan serangan drone terhadap "negara-negara tetangga dalam waktu 48 jam".
Sumber senior Saudi itu mengatakan serangan dapat menargetkan fasilitas sipil dan energi, termasuk infrastruktur vital, bandara, dan pelabuhan. Sebagian informasi intelijen juga mencakup pemantauan pemindahan posisi rudal dan drone sebagai persiapan kemungkinan serangan serentak.
Saudi merupakan salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah. Hubungan kedua negara disebut tetap "sangat kuat" di semua tingkatan, termasuk antara militer kedua negara.
Houthi Benar-benar Serang Saudi
Ancaman yang sebelumnya muncul dalam laporan intelijen itu kemudian menjadi kenyataan. Houthi melancarkan serangan ke wilayah selatan Arab Saudi dan menyebabkan 11 orang terluka.
Jumlah korban tersebut menjadi yang terbanyak di wilayah Saudi dalam lebih dari empat tahun terakhir sejak negara itu berkonflik dengan Houthi yang bermarkas di Yaman. Kelompok yang didukung Iran itu memang meningkatkan serangan terhadap Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak bulan lalu.
Serangan tersebut diklaim sebagai bentuk dukungan Houthi terhadap Iran yang tengah berperang melawan AS. Dilansir AFP, Juru Bicara koalisi pimpinan Saudi untuk memerangi Houthi, Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan serangan itu terjadi pada Kamis (6/8) malam.
Korban luka terdiri atas tujuh warga Saudi, dua warga Mesir, satu warga Yaman, dan satu warga Pakistan. Serangan yang menimbulkan korban itu terjadi di wilayah Najran yang berbatasan langsung dengan Yaman.
Konflik Yaman Memanas Lagi
Saudi memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam melawan Houthi sejak 2015. Konflik di Yaman sendiri telah berlangsung lebih dari 11 tahun dan melibatkan pasukan pemerintah yang didukung koalisi pimpinan Saudi serta kelompok Houthi yang didukung Iran.
Houthi hingga kini masih menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, beserta sejumlah wilayah strategis lainnya. Situasi pertempuran sempat mereda sejak gencatan senjata diumumkan pada April 2022.
Namun, kelompok itu kembali meningkatkan serangan terhadap Saudi setelah perang di Asia Barat yang melibatkan AS dan Iran meluas. Pertempuran juga kembali berkobar setelah penerbangan langsung dari Iran mendarat di Sanaa yang dikuasai Houthi.
Perkembangan tersebut memicu reaksi keras koalisi Saudi. Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi.
Masih pada Kamis (6/8), Houthi juga melancarkan serangan di Yaman yang menewaskan sedikitnya 58 tentara pemerintah Yaman. Serangan rudal dan drone itu menargetkan posisi-posisi militer di wilayah tengah dan timur Yaman.
Juru Bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan tersebut menargetkan pasukan pemerintah Yaman sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai peningkatan kekuatan militer yang didukung Saudi. Saree menyebut serangan-serangan itu melibatkan sejumlah besar rudal balistik dan drone.
Kementerian Pertahanan Yaman bersumpah untuk membalas serangan Houthi 'pada tempat dan waktu yang tepat'.