PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) mengaku belum menerima informasi resmi terkait rencana pergantian proyek moda transportasi mass rapid transit (MRT) menjadi autonomous rail rapid transit (ART) di Bali. Menurut perusahaan, hingga saat ini belum ada arahan mengenai perubahan konsep proyek tersebut
"Kalau keputusan menghentikan MRT itu saya juga belum dapat konfirmasi, apakah yang dimaksud MRT itu adalah kereta di bawah tanah atau kah modanya," kata Dirut PT SBDJ Ervan Maksum saat dikonfirmasi detikBali, Kamis (6/8/2026).
Ervan menjelaskan berdasarkan studi kelayakan (feasibility study/FS) yang sebelumnya disusun oleh konsultan dari Korea Selatan, sistem transportasi yang direncanakan memang dapat menggunakan ART, LRT, maupun trem. Pemilihan moda akan disesuaikan dengan kebutuhan lalu lintas penumpang serta nilai investasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sesuai dengan FS sebelumnya yang dilakukan Korea yaitu dengan ART atau LRT atau trem sesuai dengan kebutuhan trafik dan investasinya," jelas Ervan.
Namun, ia melanjutkan, jika pergantian yang dimaksud adalah kereta bawah tanah MRT menjadi kereta di atas tanah dengan ART, Ervan mengaku belum ada informasi dan arahan terkait pergantian tersebut. Pun demikian, Ervan menuturkan semakin banyak moda berbasis kereta akan semakin baik dengan kecenderungan masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
"Kalau ART atau LRT itu mirip kapasitas angkutnya, kalau MRT kapasitas angkutnya lebih besar bisa 8-10 gerbong biasanya, untuk commuter mengangkut pergerakan dari permukiman ke tempat kerja," ungkap mantan Deputi Sarana Prasarana Bappenas itu.
"Untuk kawasan turis seperti di Bali tidak membutuhkan modal yang begitu besar tapi lebih besar daripada bus daya angkutnya yakni LRT/ART atau Trem," lanjut Ervan.
Ervan menjelaskan pada prinsipnya PT SBDJ merupakan bagian Pemprov Bali sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2024.
Sebelumnya, Dinas Perhubungan (Dishub) Bali merespons rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengganti moda transportasi mass rapid transit (MRT) dengan autonomous rail rapid transit (ART) sebagai moda transportasi baru yang menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai ke Canggu. Menurut Dishub, ART dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan MRT.
Kepala Dishub Bali I Kadek Mudarta mengatakan ART adalah sarana angkutan massal perkotaan bertenaga listrik dan beroda ban karet yang dapat berjalan di atas jalan raya. Moda transportasi ini tidak memerlukan rel baja karena beroperasi dengan bantuan sensor dan sistem navigasi GPS di jalur virtual.
"Ada beberapa kelebihan ART dibandingkan dengan MRT, antara lain biaya investasi dan operasional yang lebih murah, serta pembangunan yang lebih cepat dan karena dapat beroperasi di jalan dan tidak membutuhkan pemasangan rel fisik baja," kata Mudarta kepada detikBali, Kamis (6/8/2026).
Mudarta melanjutkan, ART dapat berbagi jalan dengan kendaraan lain di jalan-jalan yang memiliki luas yang cukup lebar. Pun demikian, Mudarta tidak memiliki informasi lengkap soal rencana pergantian MRT menjadi ART yang didanai oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dengan nilai investasi mencapai Rp 2,2 triliun itu.
"Secara prinsip ART berjalan di atas jalan raya bukan pada rel baja. Kalau di bawah tanah dibangun jalan raya mungkin saja ART beroperasi di situ. Tapi tentu harus dihitung dari segi efisiensi biaya, karena konstruksi terowongan membutuhkan investasi sangat besar," jelasnya.
Secara investasi, lanjutnya, ART lebih rendah dalam kebutuhan investasi modal dan biaya operasionalnya.