detikBali

Sampah Organik Bisa Diolah untuk Atap Rumah Ramah Lingkungan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sampah Organik Bisa Diolah untuk Atap Rumah Ramah Lingkungan


Aryo Mahendro - detikBali

Bale kulkul dan pelinggih meru di Pura Ulun Danu Batur dan pura di rumah warga di Kintamani, Bangli, yang masih berbahan ijuk, Minggu (2/8/2026). (Aryo Mahendro/detikBali).
Foto: Bale kulkul dan pelinggih meru di Pura Ulun Danu Batur dan pura di rumah warga di Kintamani, Bangli, yang masih berbahan ijuk, Minggu (2/8/2026). (Aryo Mahendro/detikBali)
Bangli -

Belum lama ini, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan masyarakat menggunakan ijuk atau rumbia jadi atap rumah, alih-alih memakai seng. Namun, ada beberapa bahan material ramah lingkungan di Bali dapat diolah jadi atap bangunan.

"Sampah dan sisa hasil pertanian itu dapat (diolah) jadi campuran genteng," kata Pakar Lingkungan Universitas Udayana Ni Luh Kartini seusai seminar 100 tahun Rarud Batur di Kintamani, Minggu (2/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kartini mengatakan jenis sampah di Bali yang dapat diolah jadi bahan campuran genteng adalah sampah organik. Sudah ada teknologi yang dapat mengolah sampah organik maupun sisa hasil pertanian di Bali menjadi berbentuk bubuk.

Hasil olahan berupa bubuk tadi dapat dimanfaatkan jadi bahan material atap rumah. Fungsinya, sebagai perekat dan pelapis genteng berbahan kayu atau tanah liat.

ADVERTISEMENT

"Jadi sekarang bagaimana mengolah sampah organik. Sampah daun-daunan misalnya, bagaimana itu dapat dijadikan atap. Karena 65 persen sampai 90 persen sampah di Bali itu organik," kata Kartini.

"Bahan material itu, dapat diolah dengan cara dilumerkan dahulu, lalu dikeringkan, dilapisi perekat, hingga benar-benar layak jadi genteng," imbuhnya.

Kartini mengatakan selain ijuk, beberapa bahan alami seperti bambu dan daun pohon kelapa, sudah sejak lama dimanfaatkan jadi bahan material untuk atap bangunan. Namun, penggunaannya, hanya untuk bangunan tertentu saja.

Di antaranya, bangunan pelinggih atau menara meru di Pura dan kandang hewan ternak. Beberapa anyaman bambu atau daun pohon juga digunakan sebagai atap rumah tinggal jika pondasi dan tembok bangunannya berupa kayu.

Karenanya, jika ingin menggunakan bahan alami tersebut untuk dijadikan material atap rumah, perlu diolah dahulu. Material atap rumah berupa ijuk, jerami, bambu, atau daun pohon kelapa, kurang cocok untuk bangunan modern yang notabene berbahan batu bata ringan atau beton.

"Saya setuju dengan idenya pak Prabowo. Tapi, kalau genteng dari ijuk, harus menanam pohon enau (aren). Kemudian terbitkan instruksi presiden. Jadi memang harus dipersiapkan," katanya.

Kartini mengatakan mayoritas warga di Bali menggunakan asbes, kayu, atau batu sebagai atap rumah. Beberapa bangunan di bagian dalam pura juga ada yang menggunakan kayu sebagai atap.

"(Atap rumah warga di Bali) bukan genteng, tapi asbes. Itu sangat tidak bagus untuk kesehatan sebenarnya. Paling aman memang genteng biasa. Tapi kalau sudah pecah, tidak dapat dimanfaatkan lagi," katanya.



(hsa/hsa)









Hide Ads