detikBali

Sapi Warga Jembrana Mati Setelah Keluar Darah dari Pori-pori Kulit

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sapi Warga Jembrana Mati Setelah Keluar Darah dari Pori-pori Kulit


Sui Suadnyana, Adi Budiastrawan - detikBali

Kondisi sapi milik warga Banjar Candikusuma, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana, mati dengan ciri keluar darah dari pori kulit, Rabu (29/7/2026). (Istimewa)
Foto: Kondisi sapi milik warga Banjar Candikusuma, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana, mati dengan ciri keluar darah dari pori kulit, Rabu (29/7/2026). (Istimewa)
Jembrana -

Satu sapi milik warga Banjar Candikusuma, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, mati mendadak dengan ciri-ciri yang tak biasa. Sebelum mati, pori-pori kulit sapi tersebut mengeluarkan darah.

Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran lantaran ada delapan sapi lain di sekitar lokasi yang berpotensi terancam. Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana telah bergerak cepat dengan mengambil sampel organ dalam sapi untuk diuji di Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengiriman sampel organ dalam ke BBVet Denpasar telah dilakukan pada Kamis (30/7/2026). Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana masih menunggu hasil pengujian laboratorium resmi untuk memastikan penyebab pasti kematian sapi tersebut.

"Belum keluar nika (hasil lab). Kamis dikirim ke BBVet, kalau rabies hasilnya keluar biasanya 1x24 jam. (Pengujian) sapi biasanya memang agak lambat karena prosesnya banyak. Masih menunggu hasil lab untuk kepastian penyakitnya," papar Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, saat dikonfirmasi detikBali, Minggu (2/8/2026).

ADVERTISEMENT

Dugaan Sementara

Sugiarta mengatakan temuan sapi mati mendadak dengan ciri-ciri pori-pori keluar darah ini diduga atau suspek Penyakit Jembrana atau Jembrana Disease (JD). Namun, ciri-ciri ini juga mengarah ke penyakit lain, yakni Septicaemia Epizootica (SE) karena ada pembengkakan di leher. Suspek kedua penyakit ini tidak menular ke manusia.

Sugiarta membeberkan gejala klinis seperti darah keluar dari pori-pori kulit (keringat darah) serta proses kematian yang cepat memang menjadi ciri khas JD. Namun, ada beberapa perbedaan kondisi fisik pada temuan kasus ini.

"JD biasanya menyerang sapi yang sehat, lalu timbul keringat darah dan mati. Sedangkan kondisi sapi ini agak kurus dan lemas," jelas Sugiarta.

Indikasi penyakit ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya peran nyamuk sebagai vektor penular. Kasus gigitan nyamuk pada sapi terkadang juga menunjukkan gejala khas yang mirip.

Langkah Penanganan

Sebagai langkah penanganan dan antisipasi penyebaran penyakit di area perkandangan, petugas kesehatan hewan telah melakukan penyemprotan disinfektan (spraying) di radius sekitar 1 kilometer (km) dari lokasi ditemukannya kasus. "Namun sampai saat ini belum ada lagi laporan dari warga," tambah Sugiarta.

JD sendiri tercatat pernah merebak di Gumi Makepung kisaran 2000-an. Setelah periode tersebut, kasus JD nihil sehingga program vaksinasi sempat dihentikan.

Pemerintah daerah mengimbau para peternak tetap tenang sembari menunggu kepastian dari uji laboratorium. Pasalnya, kejelasan status penyakit ini juga diprediksi dapat berpengaruh terhadap lalu lintas serta pengiriman sapi Bali ke luar daerah nantinya.



(hsa/hsa)











Hide Ads
LIVE